Apakah Cuaca Dapat Memengaruhi Suasana Hati Secara Signifikan?

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 10 Nov 2016 06:00 WIB
psikologi
Apakah Cuaca Dapat Memengaruhi Suasana Hati Secara Signifikan?
Dalam penelitian ditemukan adanya hubungan antara cuaca dengan diagnosa depresi. (Foto: Cdn.wallpapersafari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitain mencoba mencari tahu apakah paparan sinar matahari memengaruhi suasana hati seseorang. Hasilnya cukup mengejutkan.

"Kami pikir saat hujan atau cuaca berpolusi, orang-orang akan merasa sedih. Namun ternyata tidak," tulis Mark Beecher, PhD, profesor psikolog klinis di Brigham Young University, dalam sebuah rilis.

Untuk mengaitkan hubungan antara cuaca dengan diagnosa depresi, Beecher dan para rekannya melihat pada laporan mental mandiri milik 16 ribu siswa selama enam periode yang mendatangi sesi gratis di Pusat Pelayanan Psikologis dan Konseling dalam universitas tersebut. Mereka diminta untuk mengisi pertanyaan seputar keadaan mental mereka sebelum menjalani sesi.

Pertanyaan tersebut dicocokkan dengan data cuaca tempat mereka tinggal. Para peneliti melihat pada paparan cahaya sinar matahari, hari-jari mendung, hujan, berpolusi; namun tak memberikan hasil yang signifikan. "Satu-satunya yang signifikan adalah saat matahari terbit dan matahari terbenam," tambahnya.

Ketika jumlah paparan sinar matahari semakin berkurang seiring dengan bergantinya musim, tingkat kesedihan justru meningkat. Hal ini terlihat pada semua siswa yang mengikuti konseling selama periode tersebut, dan ini artinya bukan sekedar Gangguan Kecenderungan Musiman. (Kebanyakan siswa datang ke sesi untuk melaporkan beberapa hal seputar penyesuaian, rasa cemas, dan depresi secara umum).

Menurut para peneliti, musim dingin adalah musim dimana orang-orang lebih mudah terserang kesedihan. Penelitian tersebut berawal dari pertanyaan Rees, seorang profesor fisika di universitas tersebut, tentang apakah jumlah pasien Beecher bertambah jika cuaca buruk, seperti saat badai. Lalu, Beecher menjawab bahwa diperlukan data yang akurat untuk menjawabnya.

(Baca juga: Polusi Udara Pengaruhi Kesehatan Mental Anak)

Mereka menyadari bahwa Rees memiliki akses untuk mengetahui bagaimana cuaca di Provo, Utah sementara Beecher memiliki akses untuk mengetahui data kesehatan emosional para siswa di universitas. Kemudian mereka menambahkan tingkat polusi, dan mengombinasikan dan menganalisa data tersebut.

Daerah Provo menunjukkan bahwa kadar polusi udara tertinggi berada di pedesaan, terutama di musim dingin karena efek pembalikan yang disebabkan oleh gunung di sekitar daerah tersebut. Para peneliti berasumsi bahwa kadar polusi udara dapat memengaruhi tingkat depresi musiman, namun masih perlu dikomparasikan dengan iklim lain.

Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mencaritahu beberapa faktor yang berkaitan seperti asupan vitamin D, durasi di luar ruangan, dan penggunaan berjemur matahari.

"Hal ini menunjukkan bahwa variabel cuaca dan polusi tidak memiliki dampak signifikan pada kesehatan mental karena orang-orang bersikap tabah dan adaptif. Meskipun hal-hal eksternal dapat memengaruhi suasana hati, namun ternyata orang-orang tetap bisa mengatasi dan segera beradaptasi."






(TIN)