Injeksi Kontrasepsi Para Pria Mampu Cegah Kehamilan 96 Persen

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 01 Nov 2016 11:58 WIB
kesehatan dan produktivitas
Injeksi Kontrasepsi Para Pria Mampu Cegah Kehamilan 96 Persen
(Foto: Timeslive)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi baru menunjukkan bahwa injeksi kontrasepsi pada pria secara efektif dapat mencegah kehamilan pada pasangan. 

Sayangnya, formula tersebut belum akan tersedia dalam waktu dekat karena masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk bisa menurunkan efek samping yang disebabkan. 

Studi yang tengah masuk pada fase percobaan klinis kedua tersebut tengah diujicoba pada 320 pria berusia 18-45 tahun untuk mengetahui tingkat keamanan dan kemanjuran dari injeksi. 

Mereka menerima dua hormon, yaitu tertosteron sintetis dan progesteron, melalui injeksi setiap delapan minggu selama 1,5 tahun. 

Testosteron sintetis menekan jumlah sperma karena mengakali tubuh untuk berpikir bahwa jumlah hormon tersebut sudah cukup. Dengan demikian, tubuh akan menghentikan produksi testosteron yang berguna untuk menghasilkan sperma. 

(Baca juga: Studi: Sunat Tidak Pengaruhi Sensitivitas Organ Intim Pria)

Metode penelitian
"Kami sudah meresapkan obat ini pada pria yang memiliki tingkat testosteron rendah, dan kami memeringatkan pasien bahwa efek samping dari obat tersebut adalah infertilitas," tukas Jamin Brahmbhatt, MD, dokter bedah urologi di rumah sakit Orlando Health, yang tidak terlibat dalam penelitian. 

Menggabungkan testosteron dengan obat lain, yang dalam penelitian ini adalah progesteron, terbukti dapat meringankan efek samping tersebut. 

Para partisipan memberikan sampel semen secara teratur. Jika sampel berjumlah kurang dari satu juta sperma per milimeter (normalnya terjadi dalam 24 minggu),  mereka dan pasangan diminta untuk tidak menggunakan alat pengontrol kehamilan lain selain injeksi tersebut. 

Pada fase studi kedua, dimana sekitar 226 pria terus menerima injeksi selama 56 minggu kemudian, empat kehamilan terjadi. Para peneliti menyimpulkan, obat kombo tersebut hampir 96 persen efektif menekan jumlah sperma. Sementara kondom, sebagai perbandingan, 98 persen efektif bila digunakan dengan benar. 

Hasil studi
"Studi ini menemukan adanya kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal pada pria untuk menurangi risiko kehamilan yang tidak direncanakan," ujar asisten penulis Mario Philip Reyes Festin, MD, dalam sebuah rilis. 

Namun, beberapa komplain dari partisipan seperti nyeri otot, nyeri di tempat suntikan, peningkatan libido, dan jerawat membuat penelitian ini terhenti. 

Satu partisipan juga ada yang terdiagnosa depresi, satu orang mengalami overdosis acetaminophen, dan satu lagi mengalami detak jantung tak teratur setelah berhenti menerima suntikan. 

Secara keseluruhan, 20 partisipan berhenti dari penelitian karena efek samping tersebut. Satu orang melakukan bunuh diri, meskipun para peneliti mengklaim hal tersebut tak ada hubungannya dengan penelitian. 

Faktanya, sekitar 39 persen dari 1.491 efek merugikan yang dilaporkan tak ada hubungannya dengan injeksi. 

Meski demikian 75 persen partisipan mengaku bahwa mereka ingin terus menggunakan metode tersebut walaupun percobaan telah selesai. Namun, hal tersebut tak bisa dilakukan untuk beberapa tahun ke depan. 

"Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum benar-benar tersedia sebagai metode kontrasepsi. Lagipula masih ada fase uji coba ketiga untuk membuktikan adanya keseimbangan yang baik antara kemanjuran dan keamanan dari kombinasi hormon tersebut," ujar Dr. Festin. 

Dr. Brambhatt memprediksi, kemungkinan sekitar 5-10 tahun lagi barulah obat ini bisa disetujui oleh Food and Drug Administration. Jika iya, ia lebih menganjurkan metode injeksi daripada pil. 

"Dengan injeksi, obat akan bertahan dalam tubuh, Anda tak perlu memikirkan tentang kondom atau pil kontrol kehamilan lagi," tambahnya. 

Ia melanjutkan, memiliki pengontrol kehamilan pada pria yang berjangka panjang adalah hal yang ideal. Namun, studi tersebut masih memerlukan banyak penelitian, seperti misalnya untuk mencari tahu dosis yang tepat. 








(TIN)