Diskriminasi Akibat Berat Badan Picu Masalah Emosional pada Siswa

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 27 Sep 2016 13:33 WIB
studi kesehatan
Diskriminasi Akibat Berat Badan Picu Masalah Emosional pada Siswa
(Foto: Livestrong)

Metrotvnews.com, Jakarta: Remaja yang mengalami kelebihan berat badan dan mengalami diskriminasi atau bullying pada tahun pertama sekolah menengah, dapat mengalami gangguan mental dan emosional.

Jika berlangsung terus menerus, akan berlanjut pada rasa kesepian dan meningkatnya kecemasan. Demikian studi yang dilakukan peneliti AS, belum lama ini.

"Kita tahu anak muda yang lebih berat (badannya) cenderung tak puas dengan tubuh mereka pada saat tertentu," ujar pemimpin studi Jaana Juvonen dari University of California, Los Angeles.

Para peneliti menggunakan data studi dari 26 sekolah dengan total 5 ribu siswa di California sebagai partisipan. Mereka terdiri dari etnis dan ras yang beragam, dimana 52 persennya adalah perempuan.

Mereka menjawab beberapa pertanyaan tentang kesehatan emosional mereka, termasuk ketidakpuasan pada tubuh, kecemasan sosial, dan perasaan kesepian. Mereka mengaku kerap menerima perlakuan tidak hormat, dan panggilan tertentu terkait kelebihan berat badan.

Bagi anak perempuan, mereka juga mengalami masalah emosional, dan gejala somatik (fisik) seperti sakit kepala dan mual.

"Remaja yang mengalami diskriminasi akan semakin merasakan gejala tersebut dua tahun kemudian," ujar Joseph P. Allen dari University of Virginia di Charlottesville seperti filansir Foxnews.

"Ketika tak ada yang mau duduk bersama, mengajak ke pesta, maka akan mudah orang kegemukan merasa kesepian atau cemas secara sosial," tambah Juvonen.

Ia menambahkan, diskriminasi kelompok menyebabkan kesepian dan kecemasan sosial pada remaja laki-laki dan perempuan. Namun, remaja perempuan akan ditambah rasa sakit secara fisik.


"Merasa sakit secara fisik, kesepian, dan cemas membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial," ucapnya.
Baca: Mengembalikan Rasa Percaya Diri Anak yang Terkena Bullying

Namun, tak semua diskriminasi terkait tubuh berasal dari tekanan kelompok.

"Perbandingan sosial (seperti foto di media sosial atau media cetak) cenderung meningkatkan ketidakpuasan pada tubuh, terutama di kalangan perempuan karena mereka membandingkan diri dengan  bentuk tubuh yang diinginkan," ungkapnya.

Jika para murid ini merasa penampilan adalah hal penting, maka bukan tak mungkin mereka menjadi rendah diri atau merasa tertekan.

"Bullying membentuk norma-norma sosial dengan menunjukkan apa yang tidak diterima atau ditoleransi," katanya.







(DEV)