Rata-rata Kanker Serviks di Indonesia Terdeteksi Setelah Stadium Lanjut

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 27 Sep 2016 15:40 WIB
kamus kesehatan
Rata-rata Kanker Serviks di Indonesia Terdeteksi Setelah Stadium Lanjut
(Foto: dynamicchiropractic.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2012, kanker serviks menempati urutan ketiga penyebab kematian pada perempuan di dunia, setelah kanker payudara dan kolorektral.

Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan kedua (pada 2013), dengan perbandingan 1: 1.000 orang. Jumlah pasien terbanyak terdapat di Kota Yogyakarta.

Sejauh ini, kesadaran untuk deteksi dini masih minim, sehingga penyakit baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.

"Pada 2013, sebanyak 73,5 persen wanita mendatangi dokter ketika sudah mencapai stadium lanjut. Bahkan angka tersebut meningkat menjadi 82,3 persen pada 2015, menurut data dari RSCM-FKUI," ujar Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) Prof Dr. dr. Andrijono, SpOG(K) di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Hal ini menjadi salah satu kendala sulitnya penyembuhan.

(Baca:
Efek Samping Pasca Pengobatan Kanker Serviks dan Cara Mengatasinya)


Andrijono menambahkan, keadaan yang sudah parah membuat penderita tidak bisa lagi menjalani operasi. Berdasarkan perkiraan medis, angka harapan hidup pun tak lebih dari dua tahun.

Kanker serviks adalah kanker pada Ieher rahim (serviks) yang tidak terjadi secara tiba-tiba. Penyakit ini disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV), yang juga dapat menimbulkan berbagai macam kanker yang berkaitan dengan area genital, seperti kanker vulva, dan kutil kelamin.

Sebanyak 75 persen kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 dan 18, yang banyak terdapat di Indonesia. Bila terinfeksi virus tersebut dan sistem imun tak mampu membersihkannya, maka sel-sel abnormal akan berkembang di permukaan serviks.


Bila tidak segera diobati atau dideteksi secara dini, sel-sel tersebut akan berkembang menjadi prakanker, dan secara bertahap menjadi kanker. Perubahan atau perkembangan sel ini biasanya terjadi dalam kurun waktu 3-17 tahun. "Rata-rata 10 tahun," kata Andrijono.

Separuh dari perempuan yang didiagnosa menderita kanker serviks berusia antara 35-55 tahun. Kebanyakan di antara mereka (kemungkinan) terinfeksi HPV ketika masa remaja. 

Mengapa demikian? Sebab, pada masa tersebut terjadi perubahan di selaput lendir serviks yang dapat meningkatkan kerentanan terinfeksi HPV.

Vaksinasi HPV menjadi tindakan primer untuk pencegahan kanker. Vaksin HPV Quadrivalent dapat merangsang pembentukan respons imun di dalam tubuh untuk melawan virus HPV, dan memberikan perlindungan lebih lengkap terhadap kanker serviks, dan penyakit yang disebabkan virus HPV.

Selain itu, tindakan sekunder dapat dilakukan dengan cara skrining (penapisan) dengan tes Pap (Pap smear), di samping terapi dini pada saat sel abnormal masih dalam tahap pra kanker untuk mencegah penyebaran.


Kanker serviks dapat diobati dengan tiga metode utama, yaitu operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi. Namun, diperlukan beberapa pertimbangan dalam hal pemilihan metode, yaitu dalam hal ukuran lesi kanker, tingkat keganasan, penyebaran, usia pasien dan status kesehatan.

 


(DEV)