Studi: Penggunaan Gawai Berlebih pada Anak Tingkatkan Risiko ADHD

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 19 Jul 2018 13:07 WIB
gadgetadhd
Studi: Penggunaan Gawai Berlebih pada Anak Tingkatkan Risiko ADHD
Adam Leventhal, dari University of Southern California Keck School of Medicine di Amerika Serikat yakin bahwa penggunaan gawai berlebih dapat meningkatkan risiko ADHD di kemudian hari. (Foto: Jakob Owens/Unsplash.com)

Jakarta: Berbagai penelitian telah membuktikan efek buruk dari penggunaan gawai pada segala usia. Sebuah penelitian baru juga menemukan bahwa remaja yang keranjingan gawai cenderung lebih berisiko mengalami Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Atau hiperaktif. 

ADHD adalah gangguan otak dengan berbagai gejala diantaranya kurang fokus, perilaku hiperaktif, dan impulsif yang dapat mengganggu perkembangan atau fungsi otak. 

"Teknologi ponsel yang baru dapat memberikan akses stimulasi yang cepat dan berintensitas tinggi, di mana meningkatkan paparan media digital jauh melebihi apa yang sudah dipelajari sebelumnya," ujar Adam Leventhal, dari University of Southern California Keck School of Medicine di Amerika Serikat seperti dilansir dalam The Health Site.

Ia yakin bahwa penggunaan gawai berlebih dapat meningkatkan risiko ADHD di kemudian hari. 

(Baca juga: Tips Sederhana Kurangi Kecanduan Gawai)


(Berbagai penelitian telah membuktikan efek buruk dari penggunaan gawai pada segala usia. Sebuah penelitian baru juga menemukan bahwa remaja yang keranjingan gawai cenderung lebih berisiko mengalami Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Atau hiperaktif. Foto: Jakob Owens/Unsplash.com)

Studi yang dipublikasi dalam Journal of the American Medical Association tersebut berfokus pada dampak pengalihan digital, termasuk media sosial, video streaming, berkirim pesan, mengunduh musik dan percakapan daring pada kesehatan mental remaja. 

Tim peneliti menganalisis 2.587 remaja selama dua tahun untuk diminta melaporkan frekuensi penggunaan 14 platform media digital yang populer. 

Penggunaan dibagi dalam tiga kategori: tak menggunakan, sedang, dan sering. Para peneliti memonitor peserta yang berada pada kelas 10 setiap enam bulan, sampai kelas 12.

Hasilnya, gejala ADHD terlihat pada 9,5 persen dari 114 anak yang menggunakan minimal setengah dari platform secara sering dan 10,5 persen dari 51 anak yang menggunakan semua platform.

Sementara, sekitar 4,6 persen dari 495 anak yang tak sering menggunakan berbagai platform digital tersebut juga mengalami gejala ADHD, perkiraan untuk tingkat latar belakang gangguan pada populasi umum.





(TIN)