Studi: Konsumsi Keju Tak Memicu Masalah Jantung

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 25 Jul 2018 12:14 WIB
tips kesehatan
Studi: Konsumsi Keju Tak Memicu Masalah Jantung
(Foto: The Health Site)

Jakarta: Beberapa orang menghindari keju karena dianggap lemak jenuh yang membahayakan kesehatan, terutama kardiovaskular. Namun, sebuah penelitian membantahnya.

Studi tersebut menyebutkan bahwa lemak jenuh dalam produk susu seperti keju tidak meningkatkan risiko masalah jantung di kemudian hari. 

Penelitian yang dipublikasi dalam The American Journal of Clinical Nutrition tersebut dilakukan selama 22 tahun dengan melibatkan 2.907 orang berusia 65 tahun ke atas. Para peserta tak memiliki masalah jantung di awal penelitian.

Konsentrasi asam lemak dalam plasma darah para partisipan dievaluasi di awal studi, enam tahun kemudian, dan 13 tahun setelahnya. 

Para peneliti mencatat 2.428 kematian di akhir studi dengan 833 diantaranya karena gangguan kardiovaskular. 

Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang dengan tingkat asam lemak lebih tinggi dalam darah mereka memiliki risiko kematian akibat stroke 42 persen lebih rendah.

Selanjutnya, asam heptadekanoat yang ditemukan dalam darah, yang merupakan bentuk asam lemak jenuh, dikaitkan dengan penurunan risiko kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.

"Temuan kami tidak hanya mendukung, tetapi juga secara signifikan memperkuat, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa lemak susu tidak meningkatkan risiko penyakit jantung atau kematian secara keseluruhan pada orang dewasa yang lebih tua," kata peneliti Marcia Otto, Ph.D dari UTHealth School Public Health.

Selain tidak berkontribusi pada kematian, hasil tersebut juga menunjukkan bahwa satu asam lemak yang ada dalam susu dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, terutama dari stroke.

Profesor Otto menjelaskan bahwa penting bahwa masyarakat diberi informasi yang cukup tentang kebutuhan gizi mereka.

"Konsumen telah terpapar dengan informasi yang sangat berbeda dan bertentangan tentang diet, terutama dalam kaitannya dengan lemak," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, penting untuk memiliki studi yang kuat, sehingga orang dapat membuat pilihan yang lebih seimbang dan terinformasi berdasarkan fakta ilmiah daripada kabar angin.





(DEV)