Penderita Diabetes Lebih Berisiko Tuli

Indriyani Astuti    •    Rabu, 01 Nov 2017 17:55 WIB
diabetes
Penderita Diabetes Lebih Berisiko Tuli
(Foto: Web MD)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penderita diabetes melitus lebih berisiko terserang tuli akibat kerusakan saraf pendengaran. Risiko itu 55 persen lebih tinggi daripada orang normal.

"Penelitian Srinives menunjukkan pasien diabetes dengan kadar gula per 3 bulan (HbA1C) lebih besar daripada 8 persen dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, prevalensi tuli sarafnya mencapai 85 persen," ujar dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok dari Rumah Sakit (RS) Gading Pluit Jakarta, Armelia AR, pada simposium kedokteran bertajuk Endocrine Update and Minimal Surgical Management of Endocrine Tumors, belum lama ini.

Armelia menjelaskan kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pembuluh darah. Akibatnya ujung-ujung saraf, termasuk saraf pendengaran, rusak.

"Gangguan sirkulasi darah membuat kekurangan oksigen pada bagian koklea di telinga dalam, yang akhirnya menimbulkan kerusakan permanen pada saraf-saraf pendengaran di telinga dalam," terang Armelia.

Penderita diabetes yang mengalami kejadian tersebut akan tuli mendadak. Umumnya, gangguan itu sulit sembuh sempurna. Itu disebabkan penyakit diabetes bersifat degeneratif progresif atau menyebabkan kerusakan yang terus bertambah parah.

Namun, selama serangannya masih kurang dari dua minggu dan langsung diobati, angka kesembuhannya dapat mencapai 50 persen.

"Pada penyandang diabetes, tuli mendadak bisa membaik, tapi tidak bisa sembuh total. Setidaknya, ada perbaikan," ujar Armelia.

Dia mengungkapkan upaya perbaikan pada kasus tersebut dapat dilakukan dengan cara terapi. Ada dua terapi yang dilakukan. Pertama, terapi utama dilakukan dengan pemberian obat-obatan kortikosteroid. Kedua, dengan terapi oksigen hiperbarik. Kedua terapi itu dilakukan secara bersamaan.

Telinga berdenging

Selain tuli mendadak, penyandang diabetes juga berisiko tinggi mengalami tinitus. Terdengar suara berdenging atau bising yang muncul dalam telinga atau kepala tanpa adanya rangsang suara dari luar. Suara yang terdengar dapat menyerupai denging, suara ombak, jangkrik, detak jam, maupun denyut jantung.

Tinitus pada penyandang diabetes juga disebabkan kurangnya pasokan oksigen yang masuk ke telinga bagian dalam.

"Meskipun bukan gejala yang berbahaya, dampak yang diberikan cukup besar. Gangguan pekerjaan, gangguan kualitas hidup, depresi yang dapat mengakibatkan kematian sehingga sangat diperlukan adanya konseling pada pasien-pasien tinnitus," ujar Armelia.

Menurutnya, tinitus tak bisa diremehkan karena bisa berujung depresi. Hal itu disebabkan suara yang ditimbulkan dapat sangat mengganggu, mulai skala berdenging yang ringan hingga yang berat.

"Pada skala yang ringan, bising yang ditimbulkan tidak terlalu kuat sehingga tidak terlalu mengganggu. Namun, pada skala yang berat, suara bising sangat mengganggu dan menghasilkan gangguan kualitas hidup."

Untuk pengobatan, terapi tinitus hanya dapat diberikan pada pasien yang kejadian tinitusnya masih dalam hitungan bulan, dengan cara memberikan vitamin dan mineral serta obat anticemas bila pasien membutuhkan.

"Yang utama konseling. Jadi, pasien kita berikan habituasi atau pembiasaan diri, penjelasan bahwa ini tidak berbahaya dan bukan masalah asalkan sudah ada pernyataan medis bahwa tidak ada masalah pada telinga, otak, dan organ lainnya," kata Armelia.

Ia mengingatkan, pencegahan gangguan pendengaran pada penyandang diabetes dilakukan dengan mengontrol gula darah melalui gaya hidup sehat maupun obat-obatan.

"Istirahat cukup, olahraga teratur, dan jaga pola makan sesuai prinsip gizi seimbang, jauhi rokok dan minuman beralkohol," pesan Armelia.




 


(DEV)