Polusi Udara Tidak Kurangi Manfaat Olahraga?

Anggi Tondi Martaon, Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 19 Jul 2018 13:36 WIB
kesehatanpolusi udara
Polusi Udara Tidak Kurangi Manfaat Olahraga?
Dr Peter Mercurio seorang ahli jantung di Rumah Sakit Westchester Utara di Mount Kisco, N.Y mengatakan polusi udara bukan alasan untuk tidak berolahraga. (Foto: Fil Mazzarino/Unsplash.com)

Jakarta: Polusi udara menjadi salah satu pertimbangan sebagian besar orang enggan berolahraga di luar ruangan. Sebab, polusi tidak baik terhadap kesehatan, terutama pernapasan dan kardiovaskular.

Namun, sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh Nadine Kubesch, seorang peneliti di University of Copenhagen menyebutkan bahwa polusi udara tidak mengurangi manfaat berolahraga. 

Aktivitas fisik seperti bersepeda, berkebun, dan bermain dapat membuat menyehatkan dan mengurangi risiko serangan, "bahkan di kota yang tercemar," ujar Kubesch.

Dalam penelitianya, Kubesch bersama tim menganalisa kebiasaan aktivitas fisik dan olahraga 52.000 orang berusia 50 hingga 64 tahun. Peneliti juga mempertimbangkan faktor lain yang berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung, seperti merokok, berat badan, pendidikan, pekerjaan dan status perkawinan.

Para peneliti juga mengumpulkan informasi mengenai polusi udara kendaraan bermotor (NO2) melalui data polusi udara nasional. 

Selama penelitian yang berlangsung hampir dua dekade, hampir 3.000 peserta mengalami serangan jantung perdana dan 324 serangan jantung kambuhan.


(Berkebun dikaitkan dengan 13 persen penurunan risiko serangan jantung. Foto: Celeste Horrocks/Unsplash.com)

(Baca juga: Polusi Udara Picu Penuaan Dini)
 
Peneliti pun menganalisa temuan tersebut dan membandingkan kebiasaan berolahraga dan aktivitas fisik yang dilakukan peserta. Peneliti pun menemukan, empat kegiatan seperti bermain dalam olahraga, bersepeda, berjalan kaki dan berkebun selama empat jam atau lebih dalam seminggu mengurangi risiko serangan jantung kambuhan menjadi setengahnya. 

Selain itu, bersepeda selama empat jam atau lebih dalam seminggu menurunkan risiko serangan jantung berulang sebesar 31 persen. Sementara bermain olahraga dikaitkan dengan 15 persen penurunan risiko serangan jantung. 

Bersepeda dikaitkan dengan 9 persen penurunan risiko serangan jantung perdana. Berkebun dikaitkan dengan 13 persen penurunan risiko serangan jantung. 

Meski tinggal di daerah dengan polusi tinggi dikaitkan dengan peningkatan 17 persen dalam risiko serangan jantung pertama dan 39 persen peningkatan risiko serangan jantung berulang, peneliti menyebutkan bahwa polusi udara tampaknya tidak mengurangi manfaat latihan.

Sementara itu, Dr Len Horovitz, seorang spesialis paru di Lenox Hill Hospital di New York City, mendukung hasil penelitian itu. Menurutnya, kualitas udara yang buruk tidak membatalkan manfaat olahraga. "Masih bermanfaat untuk berolahraga, terlepas dari polusi," kata Horovitz.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr Peter Mercurio yang merupakan seorang ahli jantung di Rumah Sakit Westchester Utara di Mount Kisco, N.Y yang mengatakan polusi udara bukan alasan untuk tidak berolahraga. "Bahkan di daerah dengan polusi, olahraga tetap membantu," kata Mercurio. 

Meskipun begitu, Mercurio tetap menyarankan agar orang-orang menghindari berolahraga pada saat-saat puncak polusi. Terutama penderita asma karena polusi udara yang tinggi dapat menjadi pemicu. "Berolahraga di daerah yang kurang tercemar lebih baik," katanya. Studi ini dipublikasikan secara online 18 Juli di Journal of American Heart Association.




(TIN)