Kisah Sedih di Balik Didirikannya Klinik Mata Palsu Ilyarsi Okularis

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 26 Oct 2017 11:36 WIB
kisah inspiratif
Kisah Sedih di Balik Didirikannya Klinik Mata Palsu Ilyarsi Okularis
Desy Pujiarsi dan Rizwan Ilyasin (Foto: Sri Yanti Nainggolan)

Metrotvnews.com, Jakarta:  Bermula dari rasa tak puas dengan mata palsu (protesa mata) yang digunakan anaknya, Rizwan Ilyasin akhirnya mempelajari cara membuat mata buatan dan mendirikan Klinik Pembuatan Mata Palsu Ilyarsi (Ilyarsi Okularis).

Klinik yang berdiri pada Desember 2016 tersebut berawal dari anak pertama Rizwan, Falisha Sarvia Ilyarsi (2) yang didiagnosa menderita retinoblastoma (kanker mata) stadium lanjut ketika usianya satu bulan. Falisha pun harus melakukan operasi pada mata bagian kanan di salah satu rumah sakit di Indonesia.

Setelah proses tersebut, Falisha menggunakan protesa mata buatan India. Sayangnya, mata Falisha memberikan respons negatif.

"Jadi belekan  terus. Awalnya kami pikir itu normal, padahal itu adalah reaksi penolakan di tubuh karena bahan protesa tak bagus," ujar Desy Pujiarsi, ibu Falisha saat ditemui Metrotvnews.com  di Ilyarsi Okularis, Rabu (25/10/2017).

Falisha sempat berganti ke beberapa okularis lokal namun hasilnya masih tidak memuaskan dan tetap mengalami gangguan serupa, bahkan bengkak.

Ternyata, mata bagian kiri Falisha juga terdiagnosa memiliki retinoblastoma sehingga dilakukan proses kemoterapi hingga saat ini. Pengobatan kemoterapi dilakukan di Singapura karena pengobatan di Indonesia belum memiliki fasilitas tersebut.


Belajar menjadi okularis

Setelah berganti-ganti okularis dan tak juga mendapatkan hasil terbaik, Rizwan pun memutuskan untuk belajar membuat okularis sendiri.

"Anak-anak harus ganti okularis setiap 2-6 bulan, karena masih masa pertumbuhan. Akhirnya suami saya mau belajar. Kami mencari-cari okularis andal melalui internet," ujar Desy.

Mereka pun mendatangkan John Pacey-Lowrie, okularis terkenal di Inggris dengan pengalaman 40 tahun di beberapa rumah sakit mata di Inggris. Pria yang mengajar di Nottingham Trent University datang ke Indonesia selama dua minggu pada Juni 2015 untuk mengajari Rizwan berbagai hal seputar dunia okularis.

"Dia datang ke sini (Indonesia) untuk mengajarkan cara menjadi okularis, membuat dan memberitahu standar kesehatan laboratorium yang layak, dan bahan-bahan okularis yang berkualitas." tambah Desy.

Rizwan diajari bagaimana cara membuat protesa yang tak terlihat seperti mata palsu atau terlihat aneh ketika dipasang, serta tidak menimbulkan efek samping berbahaya pada bagian mata.

Terdapat beberapa syarat mutlak dari pembuatan mata palsu yaitu harus mulus, tak boleh luntur (cat untuk melukis mata), dan tak boleh ada zat kimia. Selain itu, tak boleh ada rongga atau lubang pada protesa untuk mencegah kotoran dari luar tinggal di situ.

"Salah satu tujuan orang memakai protesa adalah meningkatkan rasa percaya diri, baik dalam mencari pekerjaan maupun pasangan hidup," imbuh Desy.

Buka klinik

Setelah mempelajari pembuatan okularis yang baik dan benar, Rizwan pun mulai membuka klinik pembuatan mata pada akhir tahun 2016. Pada penanganan pasien pertama, pria lulusan Sarjana Hukum tersebut masih didampingi oleh Pacey-Lowrie.

Klinik yang terletak di daerah Tangerang Selatan, Banten, tersebut menggunakan bahan akrilik berkualitas tinggi yang diimpor langsung dari Inggris.

Dalam proses pembuatan protesa mata, biasanya akan dilakukan tiga kali pertemuan dengan pasien.Pertama, dilakukan pembentukan bentuk mata dimana dilakukan cara khusus untuk mengetahui ketebalan protesa kelak agar nyaman saat dikenakan pasien.

Kemudian, para pertemuan kedua, dilakukan pelukisan bagian mata agar terlihat sama dengan bola mata asli. Umumnya dibutuhkan sektar 15-60 menit. Setelah itu, protesa dipoles sedemikian rupa agar terlihat lebih alami dan menghindari paparan zat kimia yang dapat menyebabkan radang mata.

Pada kunjungan terakhir, dilakukan pemasangan protesa pada mata pasien dengan waktu yang relatif singkat, seperti memasang lensa kontak. Pasien dianjurkan tidak sering melepaskanya untuk menghindari paparan bakteri yang semakin banyak.

Biaya untuk satu mata palsu di Ilyarsi Okularis seharga Rp7 juta dengan kualitas yang setara Rp 25 juta jika perawatan dilakukan di Inggris. Namun, Desy mengaku bahwa ada ketentuan tersendiri bagi pasien yang kurang mampu.

"Kami membuka klinik untuk membantu, karena ini awalnya dari pengalaman sendiri," tukas Desy.

Desy sendiri saat ini mengaku masih membutuhkan biaya untuk pengobatan sang anak, Falisha, yang masih harus menjalani kemoterapi untuk mata kirinya. Bagi Anda yang berniat membantu proses pengobatan, bisa memperoleh informasinya di sini.


(DEV)