Jangan Remehkan Anemia pada Ibu Hamil

   •    Rabu, 19 Jul 2017 12:11 WIB
kesehatan
Jangan Remehkan Anemia pada Ibu Hamil
(Foto: Women's Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Berbagai nutrisi dibutuhkan ibu hamil seperti vitamin, asam folat, protein, karbohidrat, kalsium, dan satu yang tidak kalah penting terpenting ialah zat besi.

Kekurangan zat besi penyebab anemia dapat berakibat buruk, di antaranya berat badan bayi rendah ketika lahir, kecacatan pada bayi, hingga risiko keguguran.

"Ketika hamil, naiknya berat badan dan pemberian nutrisi sangat memengaruhi janin. Saat ini hampir semua perempuan, khususnya di Asia, mengalami defisiensi zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin B. Itu semua pemicu kelainan pada kehamilan," ujar dokter spesialis obgyn, M Adya Dilmy, dalam seminar dan silaturahim PT Kalbe Farma di Auditorium Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkan Adya, anemia berdampak pada kurangnya oksigen di seluruh tubuh. Kekurangan oksigen menyebabkan sulitnya asupan vitamin untuk memenuhi kebutuhan janin.

Bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat, anemia yang terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan berbagai masalah serius lainnya. Salah satu yang paling sering dialami ibu anemia ialah lemahnya kontraksi. Hal itu menyebabkan proses persalinan menjadi lebih sulit dan berisiko.

"Selain itu, ibu yang anemia juga berpotensi mengalami depresi saat hamil dan setelah melahirkan," ujar Adya.

Ibu yang anemia juga berpotensi melahirkan anak yang anemia. Hal tersebut akan terbawa oleh anak hingga dewasa. Bila sang anak berjenis kelamin perempuan, masalah anemia sama besar potensinya terjadi ketika hamil bila ia tidak melakukan upaya pemenuhan zat besi sejak dini. Untuk menghindari anemia, setiap perempuan telah harus menjaga asupan gizi dan protein sejak sebelum hamil. Bila tidak, tubuh akan tetap berpotensi besar mengalami kekurangan zat besi ketika hamil.

"Meski (ibu) tidak (mengalami) anemia, kandungan zat besi yang pas-pasan pada ibu hamil tetap akan berpotensi menyebabkan masalah, terutama saat proses persalinan yang pasti akan menyebabkan keluarnya darah ibu," ujar Adya.

Untuk dapat lebih baik mengetahui kondisi kehamilan dan berbagai kemungkinan yang terjadi selama kehamilan, sangat disarankan ibu hamil melakukan USG atau ultrasonografi sejak trisemester pertama kehamilan. Selain itu, pemeriksaan darah rutin setiap bulan selama kehamilan menjadi hal yang sangat perlu dilakukan.

"Pemenuhan zat besi mengurangi risiko 20% berat bayi rendah dan kecacatan pada bayi. Hal itu harus dipenuhi, terutama pada ibu yang memiliki riwayat kehamilan buruk dan pernah mengalami keguguran," tutur Adya.

Berbagai asupan bernutrisi tinggi zat besi seperti daging, ikan, dan kacang-kacangan harus dengan rutin dan tepat dikonsumsi ibu hamil. Bila diperlukan, tambahan zat besi dapat diberikan dokter sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing ibu hamil.

Zat besi bisa didapatkan dari berbagai makanan yang bersumber dari hewan ataupun tumbuhan. Dari hewan, zat besi bisa didapatkan dari gurita, hati sapi, kaviar, tiram, kepiting, daging sapi, dan bebek. Dari tumbuhan, zat besi bisa diperoleh dari asparagus, bayam, edamame, bit, labu, kacang merah, dan avokad. (Media Indonesia/Nik)


(DEV)