Studi: Minum Kopi Kurangi Risiko Kanker Hati

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 30 May 2017 14:54 WIB
kopistudi kesehatan
Studi: Minum Kopi Kurangi Risiko Kanker Hati
Konsumsi satu cangkir kopi berkafein dapat mengurangi risiko penyakit penyebab kedua terbesar kematian akibat kanker secara global tersebut hingga 20 persen dan dua cangkir sebanyak lebih dari 35 persen. (Foto: Pinterest/Rachael Zak)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa minum kopi hingga lima cangkir per hari dapat menurunkan risiko kanker hati. 

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak konsumsi kopi, maka proteksi melawan kanker haptoselular (HCC) juga semakin besar. 



Sementara, konsumsi satu cangkir kopi berkafein dapat mengurangi risiko penyakit penyebab kedua terbesar kematian akibat kanker secara global tersebut hingga 20 persen dan dua cangkir sebanyak lebih dari 35 persen. 

"Kopi dipercaya memiliki banyak manfaat dan penelitian terakhir ini juga menunjukkan efek positif pada risiko kanker hati," ujar pemimpin studi Oliver Kennedy dari University of Southampton.

(Baca juga: Ini Jumlah Kalori Saat Anda Minum Kopi)

Meski demikian, penelitian tersebut tak berarti menyarankan untuk konsumsi kopi sebanyak itu dan diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat efek lain dari konsumsi kopi yang tinggi. Selain itu, perlu dilihat juga bagaimana efek kopi pada wanita hamil.

Studi tersebut memeriksa data dari 26 studi observasi yang melibatkan lebih dari 2,25 juta partisipan untuk mengalkulasi risiko berkaitan penyebab HCC pada konsumsi kopi antara satu sampai lima cangkir per hari.

Manfaat kopi tanpa kafein juga ditemukan dalam penelitian tersebut. Molekul komponen dalam kopi memiliki antioksidan, anti-peradangan, anti-karsinogenik, dan komponen lain yang dapat menurunkan risiko penyakit hati kronik dan kanker hati. 

"Kita sudah melihat bahwa kopi dapat menurunkan risiko kirosis dan kanker hati pada dosis tertentu. Kopi juga dapat mengurangi risiko kematian dari berbagai kasus, ini adalah obat-obatan alami," tukas Peter Hayes, profesor daru University of Edinburgh. 








(TIN)