Wanita dan Pria Penderita Jantung Harus Mendapat Perawatan Sama

Anindya Legia Putri    •    Rabu, 10 Jan 2018 21:35 WIB
kanker
Wanita dan Pria Penderita Jantung Harus Mendapat Perawatan Sama
Ilustrasi. Shutterstock

Jakarta: Studi terbaru menyebut wanita yang menderita serangan jantung akan lebih sedikit meninggal jika diberi perawatan yang sama dengan pria.

Para periset dari University of Leeds dan Karolinska Institute di Swedia menganalisis data dari registrasi jantung online Swedia. Analisis terhadap 180.368 penderita serangan jantung selama periode 10 tahun.

Dari hasil riset tersebut diketahui bahwa wanita dua kali lebih mungkin meninggal karena jenis serangan jantung yang paling serius dibandingkan pria, setahun setelah dirinya melahirkan.

Peneliti yakin hal itu disebabkan perbedaan dalam perawatan. Mereka menemukan bahwa wanita rata-rata dirasa kurang mungkin menerima perawatan yang direkomendasikan dibandingkan pria, saat mengalami serangan jantung yang berpotensi fatal yang disebut STEMI.

Ini adalah jenis serangan jantung yang paling serius, di mana arteri koroner terblokir bekuan darah dan memerlukan penanganan segera.

Dalam penelitian tersebut, wanita yang memiliki STEMI 34 persen lebih kecil kemungkinannya menerima prosedur yang menghambat arteri yang tersumbat, seperti operasi bypass dan stent.

Wanita juga 24 persen lebih kecil kemungkinan diberi obat statin yang diresepkan, yang membantu mencegah serangan jantung kedua, dan 16 persen lebih kecil kemungkinannya diberikan aspirin, yang membantu mencegah pembekuan darah.

Hal ini terlepas dari pedoman yang menyarankan ketiga perawatan tersebut diberikan pada kedua jenis kelamin.

Studi tersebut menemukan bahwa ketika wanita menerima semua perawatan yang dianjurkan, kesenjangan angka kematian antara jenis kelamin menurun dalam hampir semua keadaan.

Sekitar 124 ribu pria dan 70 ribu wanita dirawat di rumah sakit karena serangan jantung di Inggris dalam setiap tahun. Chris Gale, co-penulis studi dari University of Leeds, mengatakan bahwa bias gender untuk penyakit jantung juga terjadi di Inggris.

"Ada kesalahpahaman di antara masyarakat umum dan profesional kesehatan tentang seperti apa pasien serangan jantung. Biasanya, ketika kita memikirkan pasien serangan jantung, kita melihat pria setengah baya yang kelebihan berat badan, menderita diabetes dan merokok. Ini tidak selalu terjadi. Serangan jantung memengaruhi spektrum populasi yang lebih luas, termasuk wanita," ujar Gale.

Gale mengatakan bahwa sejak kontak pertama mereka dengan profesional kesehatan, wanita cenderung tidak mendapatkan tes diagnostik yang sama, sehingga menyebabkan 50 persen lebih mungkin pada awalnya salah didiagnosis.

"Jika Anda melewatkan kesempatan pertama untuk mendapat perawatan pertama, kemungkinan besar Anda akan kehilangan kontak berikutnya  dan semuanya bertambah secara kumulatif dan menyebabkan angka kematian lebih besar," tandas Gale.


(TRK)