Lari Maraton Bantu Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 24 Apr 2018 10:35 WIB
tips kesehatan
Lari Maraton Bantu Tingkatkan Kekebalan Tubuh
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Tren lari maraton semakin digandrungi anak-anak muda. Tak hanya menyehatkan, olahraga ini juga dapat membuat imunitas tubuh semakin baik.

Sebuah studi menemukan bahwa olahraga ketahanan tersebut justru meningkatkan kekebalan tubuh. 

"Jelas terlihat bahwa perubahan dalam sistem imun tubuh setelah olahraga berat tidak menekan kekebalan tubuh," ujar peneliti John Campbell dari University of Bath, Inggris, dilansir dari The Health Site. 

Faktanya, ia menambahkan, sistem imun justru meningkat setelah olahraga. Misalnya, respons pada penyakit flu semakin sedikit. 

Sebuah penelitian dari tahun 1980, yang berfokus pada Los Angeles Marathon mencari tahu apakah para pelari mengalami gejala infeksi setelah beberapa hari atau minggu mengikuti ajang tersebut. Hasilnya, banyak yang mengalami hal tersebut lantaran percaya dengan mitos tersebut. 

Kini, sebuah studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Frontiers in Immunology telah menginterpretasikan ulang penemuan tersebut. 

Penelitian tersebut menjelaskan, olahraga membuat sel imun berubah dengan dua cara. 

Awalnya, jumlah beberapa sel kekebalan dalam aliran darah dapat meningkat secara dramatis hingga 10 kali selama olahraga, terutama sel pembunuh alami yang berhubungan dengan infeksi.

Setelah berolahraga, beberapa sel dalam aliran darah menurun secara substansial, terkadang jatuh ke tingkat yang lebih rendah daripada sebelum olahraga dimulai, dan hal tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam.

Banyak ilmuwan sebelumnya menginterpretasikan penurunan sel imun ini setelah latihan sebagai penekanan kekebalan. 

“Temuan dari analisa kami menekankan bahwa orang tidak boleh menunda olahraga karena takut itu akan meredam sistem kekebalan mereka. Jelas, manfaat olahraga, termasuk olahraga ketahanan, lebih besar daripada efek negatif yang mungkin dirasakan orang, ”kata rekan penulis studi James Turner dari University of Bath.

Lihat video:





(DEV)