Penyebab Seseorang Melakukan Verbal Abuse

Raka Lestari    •    Kamis, 29 Mar 2018 14:36 WIB
kesehatanpsikologi
Penyebab Seseorang Melakukan Verbal Abuse
Menurut Novita Tandry, verbal abuse atau kekerasan secara verbal bisa berdampak lebih besar daripada kekerasan secara fisik. (Foto: Claudia Soraya/Unsplash.com)

Jakarta: Verbal abuse atau yang dikenal dengan kekerasan secara verbal adalah salah satu jenis kekerasan (abuse) yang bisa terjadi, salah satunya adalah dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan dalam pacaran atau dalam hubungan pernikahan. 

Umumnya para pelaku yang melakukan verbal abuse ini akan berbicara dengan kata-kata yang kasar seperti menghina atau mengejek korbannya. Atau bahkan terkadang pelaku juga memaki dengan kata-kata yang kasar. 

Menurut Psikolog Anak, Pendidikan, dan Keluarga Novita Tandry, M.Psi, banyak hal yang bisa menjadi penyebab orang melakukan kekerasan secara verbal ataupun secara psikis. 

Itu terjadi lebih kepada karena rasa insecurity yang ada pada dirinya. "Insecurity itu yang membuat dia melakukan verbal abuse terhadap orang. Dia dibentuk dan dibesarkan dalam kondisi bahwa kekerasan secara verbal itu adalah sesuatu yang biasa."

(Baca juga: Pengetahuan Dasar tentang Anak Wajib Dimiliki Orang Tua)


(Menurut Novita Tandry, verbal abuse atau kekerasan secara verbal bisa berdampak lebih besar daripada kekerasan secara fisik. Foto: Zach Guinta/Unsplash.com)

Pengaruh Keluarga

Salah satu yang memiliki pengaruh besar adalah keluarga. Jika seseorang dibesarkan dengan orang tua yang cukup keras kepada anak-anaknya itu bisa menjadi salah satu pemicu anak melakukan verbal abuse ketika sudah dewasa kelak. 

"Ada keluarga yang menganggap bahwa dengan bersikap keras kepada anak dilakukan agar anaknya menjadi seorang pribadi yang kuat. Tapi ada juga yang keluarganya mengajarkan bahwa untuk mengajarkan anak tidak perlu bersikap kasar," ujar Novita kepada Medcom.id ketika dihubungi melalui telepon pada Kamis, 29 Maret 2018. 

Menurut Novita, verbal abuse atau kekerasan secara verbal bisa berdampak lebih besar daripada kekerasan secara fisik. "Menurut aku semua penyakit kalau sakitnya secara fisik bisa sembuh kalau kita mendapat kasih sayang dari orang-orang terdekat kita. Tapi kalau sakit seperti depresi, mau diobatin seperti apa pun akan susah sembuhnya."

Oleh karena itu, konseling kepada psikolog sangat diperlukan dalam hal ini. Baik itu untuk pelaku atau korban verbal abuse.

"Pada kasus ini, kita butuh orang lain untuk mengetahui sumber masalahnya. Dan ketika melakukan konseling harus menceritakan secara jujur apa yang terjadi untuk bisa menentukan terapi apa yang akan digunakan untuk proses pengobatannya," ujar Novita. 














Konsultan: Novita Tandry, M.Psi.
Psikolog Anak dan Remaja 
serta Konsultan di bidang pendidikan anak dan remaja









(TIN)