Status ODHA Tak Halangi Eva Berprestasi di Olahraga

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 02 Oct 2018 16:14 WIB
topik khusus rona
Status ODHA Tak Halangi Eva Berprestasi di Olahraga
Eva Dewi Rahmadiani, penyintas HIV berusia 35 tahun yang berprestasi lewat sepak bola wanita. (Foto: Sri Yanti Nainggolan)

Bandung: Status sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) acapkali membelenggu seseorang untuk bisa hidup normal. Tak jarang, stigma negatif dan diskriminasi masyarakat menjadi hambatan bagi para ODHA untuk berprestasi. 

Namun, hal itu tak menghalangi semangat Eva Dewi Rahmadiani, penyintas HIV berusia 35 tahun untuk berprestasi lewat sepak bola wanita. Eva mengaku tak menyangka dirinya bisa menjadi satu-satunya perempuan yang akan mengikuti pertandingan street soccer internasional Homeless World Cup 2018 di Meksiko pada 13-18 November 2018 mendatang.

"Akhirnya dikasih kesempatan tahun ini untuk ada perempuan yang diikutsertakan. Awalnya saya tidak yakin, karena merasa sudah tua, meskipun tak ada batasan umur," ujarnya saat ditemui Medcom.id di Bandung, Jumat, 28 September 2018.

Eva mengaku mengikuti dua seleksi yang diadakan pusat rehabilitasi narkoba Rumah Cemara, yaitu di Bandung dan Lombok.

Eva memang menyukai olahraga. Saat ini, ia juga sedang fokus untuk mengikuti Jakarta Marathon 2018 yang akan diadakan pada 28 Oktober mendatang. Tak hanya itu, ia juga menjadi pelatih sepak bola untuk beberapa komunitas anak di Bandung sejak tahun 2014 dan rutin latihan tinju tiap dua kali seminggu di Rumah Cemara.

Dua prestasi Eva tersebut menunjukkan bahwa menjadi ODHA bukan halangan baginya untuk bisa hidup dengan normal seperti orang pada umumnya.

"Saya ingin membuktikan bahwa ODHA juga bisa olahraga dan tidak seburuk yang orang pikirkan. Karena zaman sekarang kan orang lebih percaya dengan pembuktian, ya."

Eva yang pernah berada pada masa kelam menggunakan narkoba suntik menceritakan awal mula dirinya tergerak untuk melakukan tes HIV. Ia mengaku menggunakan jarum suntik secara bergantian sejak tahun 1999 dan memutuskan berhenti pada 2003 lantaran melihat banyak temannya meninggal.

"Pada 2004 belum berani (tes HIV), sampai akhirnya memutuskan ikut tes tahun 2010 karena saudara ada yang terkena HIV dan kebetulan dari geng yang saya pakai jarum bersama, sudah pada positif HIV," tuturnya.

Rasa sedih dan khawatir sempat ia alami ketika hasil tes menyatakan dirinya positif. Apalagi saat itu Eva sudah memiliki anak. Dibanding mengkhawatirkan dirinya, Eva lebih mencemaskan apakah kedua anaknya ikut tertular.

"Saya pribadi berpikir, udahlah tak bisa diapa-apakan. Tapi ini anak saya bagaimana ya? Alhamdulillah anak tak kena."

Setelah mengetahui hal tersebut, ia tak menunda melakukan pengobatan terapi ARV di Klinik Teratai, RS Hasan Sidikin Bandung. Informasi yang jelas yang didapat dari tenaga ahli membuat Eva mantap mengonsumsi obat yang disediakan secara gratis tersebut.

Selama menjalani terapi, Eva sempat jenuh minum obat dan mengalami efek samping yang membuatnya tak nyaman. Namun, ia tak menyerah begitu saja dan terus berusaha mencari kombinasi obat yang cocok.

"Berhenti kerja karena badan lemas dan bingung, bagian dari adaptasi dengan obat. Saya ganti obat sampai empat kali dengan efek samping yang berbeda."

Pada akhirnya Eva memutuskan berhenti bekerja. Saat itu, ia sengaja merahasiakan statusnya sebagai ODHA karena tak siap dengan respons rekan kerja dan tak ingin membuat suasana kerja menjadi tak nyaman.

Kini, Eva fokus di olahraga dan tengah mempersiapkan fisik untuk dua perlombaan yang akan dihadapinya. Ia rutin melakukan latihan tinju dan lari selama dua kali seminggu dengan durasi masing-masing dua jam agar stamina tetap terjaga. 

Rumah Cemara

Eva mengungkapkan bahwa perkenalannya dengan dengan dunia olahraga bermula dari ajakan untuk bergabung di pusat rehabilitasi Rumah Cemara. Komunitas tersebut berfokus pada narkoba dan HIV/AIDS.

"Awalnya, saat saya pengobatan di Klinik Teratai, ada juga orang Rumah Cemara yang melayani di sana. Saya kemudian diajak, untuk sharing (berbagi cerita) untuk pada ODHA. Masih bingung waktu itu."

Saat datang ke open meeting, ternyata Eva menemukan orang-orang yang mengalami hal serupa dengannya. Mereka pun saling melampiaskan perasaan sedih, menangis, dan menguatkan satu sama lain.

Rumah Cemara adalah pusat rehabilitasi yang didirikan oleh lima mantan pengguna NAPZA pada 2003. Salah satu pendirinya adalah vokalis band hardrock punk Jeruji, Ginan Koesmayadi , yang meninggal pada 22 Juni 2018. Organisasi berbasis komunitas tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA, penyintas narkoba, dan kaum marginal.

Awalnya, Rumah Cemara berfokus pada rehabilitasi pengguna NAPZA. Namun, dalam waktu cukup singkat, mereka juga merangkul para ODHA, yang tak jarang juga menjadi salah satu akibat dari penggunaan narkoba. Sistem pendekatan yang dilakukan pun masih konvensional, yaitu dari teman ke teman. Mereka yang melakukan perilaku berisiko diminta melakukan tes HIV, dan ternyata sebagian besar positif.

"Saat itu, staf RC 'jemput bola', mendatangi lapas (lembaga pemasyarakatan) dan rumah sakit (RS Hasan Sadikin)," ujar Direktur Rumah Cemara Aditia Taslim, yang sudah bergabung sejak 2004, pada kesempatan yang sama.

Ia menjelaskan bahwa Rumah Cemara berperan sebagai advokasi untuk membuat masyarakat lebih peka  dan mendapatkan informasi yang benar terkait isu NAPZA dan HIV/AIDS.

Pria yang terdiagnosa terkena HIV/AIDS sejak 2004 ini menekankan bahwa Rumah Cemara adalah organisasi yang menitikberatkan pada nilai-nilai hubungan yang bersifat kekeluargaan.

"Kami membangun jaringan dengan dasar kepercayaan, tak cuma karena ada acara-acara (terkait AIDS)."

Popularitas Rumah Cemara sendiri mulai naik sejak 2011, saat mengikuti ajang Homeless World Cup untuk pertama kalinya. Kekuatan media sosial membuat organisasi tersebut mulai dikenal dan mulai didatangi banyak sukarelawan. Namun, menjadi terkenal bukanlah tujuan utama.

"Banyak yang ke sini karena media sosial. Tetapi kami mencari orang yang bisa menerima dan menjaga nilai kekeluargaan, terutama mengajarkan nilai tersebut."

Terkait jumlah keanggotaan, Adit mengungkapkan tak ada jumlah yang pasti karena peserta rehabilitasi yang 'masuk-keluar'. Namun, untuk acara-acara yang bersifat internal, umumnya jumlah orang yang datang sekitar 30-50 orang. Beberapa kegiatan yang diadakan adalah sesi berbagi para sukarelawan; open meeting, yang ditujukan bagi mereka yang belum mengenal komunitas tersebut; atau acara peringatan untuk mereka yang sudah bergabung dalam Rumah Cemara.

Sejak awal berdiri, Rumah Cemara sudah menggaungkan kampanye Indonesia Tanpa Stigma, terutama untuk para mantan pengguna NAPZA dan ODHA. Berbagai pandangan negatif dan stigma terhadap kaum marginal, tak hanya pengguna NAPZA dan ODHA, tak jarang menciptakan diskrimanasi pada mereka. 

Hingga saat ini, kampanye tersebut semakin gencar disebarkan oleh komunitas-komunitas lain yang juga mendambakan Indonesia yang bebas dari stigma dan diskrimanasi pada kaum tertentu. 

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang hancur, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan terserang berbagai penyakit.

Penyebaran virus dapat melalui beberapa hal seperti darah, air mani, cairan vagina, ASI, dan air ketuban.

Selain itu, hubungan seks tak aman, pengunaan narkoba suntik, dan penularan dari ibu positif HIV ke anak juga bisa menjadi faktor seseorang mengidap HIV. Banyak penderita baru menyadari ketika jumlah CD4 sudah sangat menurun, di bawah 400 sel, dalam kurun waktu 5-10 tahun. Penurunan tersebut cenderung diikuti dengan penyakit lain seperti herpes, jamur di lidah, gejala campak, radang tenggorokan, tuberkulosis ekstra pulmonal, atau dermatitis seboroik.

"Tanda-tandanya seperti terkena flu, atau tak ada gejala pasti. Tapi umumnya, 90 persen ada penyakit penyerta," tukas dokter yang fokus pada HIV/AIDS, dr Ronald Jonathan, MSc, DTM&H dalam lokakarya jurnalis Rumah Cemara, Rabu 26 September 2018.

Hingga saat ini, pengobatan yang digunakan adalah terapi Antiretoviral (ARV) yang bertujuan untuk menekan virus HIV. Pengobatan tersebut dapat membuat ODHA hidup lebih produktif dan angka harapan hidup meningkat. 

Sebuah data dari Kementerian Kesehatan RI yang dikumpulkan hingga Desember 2017 memperkirakan terdapat 651.353 ODHA dalam satu tahun. Sebanyak 36 persen di antaranya sudah mengetahui status mereka. Kemudian, 180.843 ODHA pernah melakukan terapi ARV dan hanya 15 persen (96.298 orang) yang rutin mengonsumsinya.

Menurut Endang Budi Hastuti selaku Kasubdit HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Kementerian Kesehatan RI, bosan mengonsumsi obat menjadi alasan terbesar berhenti terapi. Sementara, ada juga beberapa alasan lain seperti tak tahan dengan efek samping obat, kendala mobilitas, dan tergoda pengobatan lain.

Secara umum, data nasional tahun 2016 tentang estimasi jumlah ODHA menunjukkan bahwa Pulau Jawa dan Papua berada dalam zona merah. Artinya, jumlah ODHA di daerah tersebut berkisar 25-200 ribu orang.

Adapun propinsi yang masuk  zona merah dari Survei Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2016 tersebut adalah Jawa Barat (63.422 orang), Jawa Tengah (66.731 orang), Jawa Timur (64.174 orang), Bali (29.264 orang), dan Papua (52.572 orang).





(DEV)