Luka Besar pada Kulit, Harus Dibalut atau Tidak?

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 28 Jun 2018 16:59 WIB
tips kesehatan
Luka Besar pada Kulit, Harus Dibalut atau Tidak?
(Foto: Todays Parent)

Jakarta: Menutup luka menjadi cara untuk mengurangi rasa sakit dan menghindarkannya dari kuman. Namun, luka seperti apa yang harus ditutup?

"Kalau luka besar dan kulit sampai terkoyak, perlu ditutup atau dibalut. Tetapi kalau luka gores tidak usah," jelas dr Dedy Kartawidjaja selaku Head of Medical Affairs Mundipharma Indonesia dalam konferensi pers Betadine Soccer Camp di Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018.

Berbeda dengan pemahaman umum, dimana luka yang ditutup justru membuat udara menjadi lembap sehingga memudahkan kuman untuk berkembang biak. Jadi, supaya luka cepat mengering sebaiknya dibiarkan saja terbuka.

Sementara, luka besar lebih disarankan ditutup karena lebih lama mengering. Pada proses tersebut, sebaiknya kontak dengan udara luar diminimalisir mengingat kuman dan debu bisa menempel pada luka.

Terkait penanganan luka, dr Dedy menjelaskan terdapat tiga jenis antiseptik yang digunakan untuk menghindari infeksi pada luka baru, yaitu alkohol, betadine, klorheksidin.

Alkohol adalah zat kimia yang dapat berfungsi dengan baik untuk menangani luka karena memiliki kandungan antimikroba. Namun, harus dipastikan alkohol yang digunakan tidak menguap karena akan berkurang fungsinya. 

Sementara betadine berfungsi sebagai antiseptik yang dapat menjangkau area kuman yang lebih besar di daerah luka dan sejauh ini belum pernah mengalami resistensi kuman.

Terakhir, klorheksidin. Antiseptik ini tidak dijadikan pilihan utama karena terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa antiseptik tersebut terbukti resisten kuman. 

Lihat video:




(DEV)