Mengapa Topik Kesehatan Mental Dianggap Tabu dalam Lingkup Kerja?

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 22 Dec 2017 13:46 WIB
psikologikesehatan mental
Mengapa Topik Kesehatan Mental Dianggap Tabu dalam Lingkup Kerja?
Meski dianggap tabu, lebih dari setengah partisipan mengaku bahwa mereka akan mendukung rekan kerja yang mengalami masalah mental. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Mengobrol bersama rekan kerja adalah hal yang wajar. Namun, umumnya hal apa saja yang dibahas? Sebuah survei menyebutkan bahwa pekerja di Inggris lebih nyaman membicarakan isu hubungan dan uang dibandingkan kesehatan mental. 

Kampanye kesehatan Health Time to Change menyurvei 2 ribu pekerja dan menemukan bahwa kesehatan mental adalah topik paling tabu di tempat kerja. Padahal, satu dari empat pekerja mengalami gangguan mental. 

Sekitar 30 persen dari partisipan mengaku bahwa topik tentang berakhirnya hubungan romansa paling sering dibahas. Sementara 26 persen memilih masalah keuangan, 20 persen tentang saran berkencan, 19 persen tentang agama, dan 18 persen membahas seks. 

Hanya 13 persen yang merasa nyaman ketika membicarakan seputar kesehatan mental yang berada pada peringkat terakhir. 

Menurut ahli Sumber Daya Kerry McGowan, keengganan tersebut muncul karena takut terdiskriminasi. 

"Berdasarkan pengalaman, mengaku bahwa Anda memiliki masalah gangguan mental dapat memengaruhi prospek promosi, bagaimana orang lain melihat Anda dan kesempatan yang terbuka. Inilah yang menyebabkan topik ini tabu."


(Meski dianggap tabu, lebih dari setengah partisipan mengaku bahwa mereka akan mendukung rekan kerja yang mengalami masalah mental. Foto: Pixabay.com)

(Baca juga: Manfaat Ikut Terapi Untuk Kesehatan Mental)

Meski dianggap tabu, lebih dari setengah partisipan mengaku bahwa mereka akan mendukung rekan kerja yang mengalami masalah mental. Namun, 39 persen dari partisipan mengaku bahwa tak tahu bagaimana cara membantu rekan yang mengalami isu tersebut. 

"Anda tak perlu menjadi ahli, dengarkan dan jangan menghakimi adalah hal signifikan yang bisa Anda lakukan. Biarkan mereka memimpin pembicaraan, tunjukkan rasa tertarik pada kondisi mereka, namun perlu diingat tak mudah untuk melakukan percapakan tentang kesehatan mental, jadi sabarlah," saran Sue Baker, direktur Time to Change. 

Selain itu, beberapa gestur baik, seperti membuatkan teh, berjalan-jalan, atau sepebuhnya fokus tanpa melongok pada ponsel juga membantu. 

Peran serta pekerja sangat besar, misalnya atasan atau senior yang lebih membuka diri tentang isu kesehatan mental dan mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah pertanda kelemahan dan tak berpengaruh pada karier. 

"Lingkungan kerja yang membuat para pekerja terbuka membicarakan tentang kesehatan mental menciptakan lingkungan kerja yang positif, inklusif, dan lebih produktif bagi semua."










(TIN)