Makan Telur Sekali Sehari Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular?

Anggi Tondi Martaon    •    Senin, 02 Jul 2018 10:00 WIB
kesehatanstudi kesehatan
Makan Telur Sekali Sehari Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular?
para peneliti menemukan bahwa risiko responden yang mengonsumsi satu butir telur per hari lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak. (Foto: Joseph Gonzalez/Unsplash.com)

Jakarta: Telur merupakan salah satu makanan yang mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Maka tak jarang hal itu membuat orang enggan atau membatasi mengonsumsi telur.

Namun, sebuah penelitian baru di Tiongkok menyebutkan bahwa mengonsumsi telur, minimal sekali sehari menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Studi yang dilakukan terhadap 400.000 orang di Negeri Tirai Bambu itu terlihat potensi meninggal akibat penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke) menurun hingga 18 persen terhadap pemakan telur setiap hari.

Sumber nutrisi yang kontroversial dari Canqing Yu, rekan penulis utama yang juga merupakan seorang profesor di the Peking University School of Public Health di Beijing menjelaskan, dalam penelitian yang dilakukan menganalisa data 416.213 peserta yang tidak pernah didiagnosis menderita kanker, penyakit kardiovaskular atau diabetes.

Dari keseluruhan peserta, setidaknya 13 persen dari responden yang berumur 30 hingga 79 tahun menyebutkan bahwa mereka makan satu butir telur per hari. Sementara, lebih dari 9 persen peserta melaporkan tidak pernah atau sangat jarang menikmati telur. 

"Hampir semua peserta makan ayam, bukan bebek, telur," kata Yu saat dikutip dari CNN.

Setelah sembilan tahun, tim peneliti kemudian melacak kesehatan responden. Mereka fokus pada koroner utama, seperti serangan jantung dan stroke, termasuk stroke hemoragik, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dan stroke iskemik.

(Baca juga: Benarkah Kuning Telur Tak Baik untuk Kesehatan?)


(Setelah melalui analisa data, para peneliti menemukan bahwa risiko responden yang mengonsumsi satu butir telur per hari lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak. Bahkan, peserta yang makan hingga satu telur setiap hari memiliki risiko 26 persen lebih rendah terserang stroke hemoragik. Foto: Gabriel Gurrola/Unsplash.com)

Selama masa tindak lanjut, sebanyak 9.985 orang meninggal karena penyakit kardiovaskular. Hampir 84.000 peserta lain didiagnosis dengan penyakit jantung pada periode ini.

Setelah melalui analisa data, para peneliti menemukan bahwa risiko responden yang mengonsumsi satu butir telur per hari lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak. Bahkan, peserta yang makan hingga satu telur setiap hari memiliki risiko 26 persen lebih rendah terserang stroke hemoragik.

"Potensi pemakan telur meninggal akibat stroke lebih rendah, sekitar 28 persen. Pemakan telur juga menikmati 12 persen penurunan risiko penyakit jantung iskemik, yang didiagnosis pada mereka yang menunjukkan tanda-tanda awal kemacetan aliran darah ke otak," ungkap Yu.

Meskipun begitu, Yu mengingatkan agar hasil penelitian tersebut disikapi dengan bijak. Sebab, penelitian tersebut hanya bersifat observasi

"Kita harus (juga) berhati-hati ketika menafsirkan hasil kami dalam konteks karakteristik makanan dan gaya hidup yang berbeda dari China," ujar Yu.

Hal senada juga disampaikan oleh Caroline Richard, asisten profesor kehidupan pertanian dan ilmu lingkungan di Universitas Alberta di Edmonton. Sebab, tidak dapat menunjukkan penyebab langsung dan efek antara makan telur dan risiko penyakit jantung.

"Mengatakan itu, ini adalah studi yang sangat besar, dan itu sendiri adalah kekuatan, dan para peneliti telah melakukan pekerjaan sebaik mungkin untuk mengendalikan faktor-faktor lain," kata Richard yang tidak terlibat dalam penelitian.

Meski tidak menunjukan sebab-akibat, Richard mnyebutkan bahwa hal serupa juga terlihat pada kajian sistematis yang dilakukannya. Tidak ada peningkatan potensi mengalami gangguan kardivaskular, termasuk tingkat gula darah, peradangan, dan kolesterol yang lebih tinggi saat seseorang mengonsumsi 6 dan 12 telur dalam seminggu.

"Studi baru kemudian menyampaikan pesan serupa bahwa konsumsi telur tidak meningkatkan risiko mengembangkan penyakit kardiovaskular," kata Richard.

Namun, ia mencatat bahwa hasil penelitian ini akan menjadi data yang sangat penting untuk membantu mengembangkan pedoman pencegahan diet di Tiongkok.





(TIN)