Pentingnya Penanganan Leukemia Sejak Stadium Awal

Meilikhah, Yatin Suleha    •    Kamis, 19 Jul 2018 08:52 WIB
leukemia
Pentingnya Penanganan Leukemia Sejak Stadium Awal
Gejala leukemia bisa ditandai dengan kondisi pucat, demam, pendarahan yang tak diketahui sebabnya. (Foto: Gift Habeshaw/Unsplash.com)

Jakarta: Shakira Aurum, anak penyanyi sekaligus aktris Denada Tambunan saat ini tengah terkena kanker Leukemia, yaitu kanker yang menyerang sel-sel darah putih. Tentu saja hal ini mengagetkan banyak kalangan.

World Health Organization (WHO) menyebut pada akhir 2015 jumlah penderita kanker di seluruh dunia mencapai 14,1 juta orang dan 4 persen di antaranya diderita oleh anak-anak.

Dari data itu, 80 persen anak yang didiagnosa kanker berasal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Setiap tahun 100-130 kasus kanker ditemukan pada setiap satu juta anak. 

Bahkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kejadian kanker pada anak usia 0-14 tahun di Indonesia mencapai lebih dari 16 ribu kasus. Umumnya, pasien yang datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam kondisi stadium lanjut.

Dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A (K), MHA, IBCLC - POI mengatakan dari sekian banyak kasus kanker di seluruh dunia, kanker darah atau leukemia adalah kanker yang paling banyak diderita anak-anak. 

"Tidak hanya di Indonesia leukemia juga paling banyak dialami anak di seluruh dunia. Nomor dua di dunia adalah kanker otak sementara di Indonesia kanker bola mata atau retinoblastoma," katanya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis, 15 Februari 2018 lalu.

Edi mengatakan berbagai literatur menyebutkan hingga saat ini penyebab kanker tidak diketahui. Bahkan di masa lalu anggapan bahwa orang yang tinggal di kawasan saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet) yang secara teori dapat berisiko mengalami leukemia tak terbukti.


(Denada bersama sang buah hati. Foto. Dok. Instagram Denada Tambunan/@denadaindonesia)

(Baca juga: Leukemia Paling Banyak Menyerang Anak-anak)

Gejala leukemia bisa ditandai dengan kondisi pucat, demam, pendarahan yang tak diketahui sebabnya, nyeri tulang, hingga pembengkakan perut. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, setiap 2 hingga 3 per 100.000 anak mengalami leukemia. 

Bicara leukemia, kata dr. Edi, kanker jenis ini menyerang sum-sum tulang anak. Tempatnya di tengah tulang, di 'pabrik' pembuatan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

"Permasalahan muncul saat sel darah putih ini diperangi sel kanker dan hampir 50 persen pasien yang datang ke RS sudah dalam stadium lanjut," ungkap Edi.

Dan dalam kesempatan yang berbeda dilansir dari wawancara sebuah televisi swasta Kamis, 19 Juli 2018 dr. Edy mengatakan bahwa penanganan awal pada leukemia dapat meningkatkan angka hidup. "Diagnosis leukemia hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan sumsum tulang. Baku emasnya di dunia ini adalah pengambilan sumsum tulang. Jadi kita lihat langsung "pabriknya" pada anak yang kita curigai leukemia," papar dr. Edy.

"Pengobatan utama leukemia adalah kemoterapi. Bicara tentang kemoterapi masih banyak yang menanyakan apakah tidak ada pengobatan yang lain dok? Masalah pengobatan kanker cuma ada tiga modalitasnya, kemoterapi, radioterapi, operasi. Tidak ada lagi selain itu. Dan kanker itu jika tidak diapa-apain dia tidak tinggal diam. Growing dan menyebar. Makanya kanker disebut ganas karena kemampuannya untuk menyebar bisa ke gusi, hati, limpa dan lainnya," tukas dr. Edy.

Untuk itu kasus pada anak-anak jika ditangani dengan baik dr. Edy mengatakan persentase sembuhnya bisa mencapai 70-80 persen. "Kalau ditemukan pada kondisi masih awal," tegas dr. Edy. Dr. Edy juga menyampaikan bahwa pernah ada pasien kanker termuda berusia tiga bulan namun saat ini sudah SMP.

"Sembuh atau tidaknya (kanker) sebenarnya itu tadi datang (penanganannya) jika ditemukan pada stadium mana. Stadium empat siapa bilang tidak bisa sembuh, bisa saja. Cuma kemungkinannya secara statistik lebih kecil dibandingkan jika ditemukan pada kondisi yang masih awal," ujar dr. Edy.


(TIN)