Konsumsi Makanan Tinggi Energi Bisa Picu Kanker

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 21 Aug 2017 07:00 WIB
kesehatan
Konsumsi Makanan Tinggi Energi Bisa Picu Kanker
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 3,5 persen kasus kanker baru pada pria dan 9,5 persen kasus kanker baru pada wanita disebabkan oleh kegemukan atau obesitas. (Foto: Thomas Habr /Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa konsumsi terlalu banyak makanan padat energi seperti hamburger dan pizza dapat meningkatkan risiko kanker, tanpa memandang indeks massa tubuh (IBM). 

Studi tersebut juga menyebutkan bahwa orang kurus sekalipun bisa memiliki metabolisme yang tak sehat bila tinggi konsumsi tak sehat. 

Konsumsi dalam jumlah banyak berhubungan dengan peningkatan obesitas yang bisa menyebabkan kanker pada wanita post-menopause berberat badan normal sebesar 10 persen. 



Menurut pemimpin investigasi Cynthia A. Thompson, kontrol dan pengaturan berat badan yang dilakukan tak cukup untuk melindungi munculnya penyakit dan kanker akibat obesitas jika salah mengonsumsi jenis makanan. 

"Pada wanita dengan berat badan normal, kepadatan energi diet (DED) yang lebih tinggi dapat menimbulkan kanker akibat obesitas," jelasnya. 

DED adalah salah satu faktor risiko yang bisa dimodifikasi. 

Intervensi nutrisi yang menargetkan kepadatan energi serta pendekatan pencegahan kanker terkait diet diperlukan untuk mengurangi beban kanker di antara wanita pascamenopause.

Obesitas dapat memicu beberapa jenis kanker. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 3,5 persen kasus kanker baru pada pria dan 9,5 persen kasus kanker baru pada wanita disebabkan oleh kegemukan atau obesitas di tahun 2012. Dari sekian banyak jenis kanker, sebanyak 54 persen wanita menderita kanker kantong empedu. 

(Baca juga: 7 Gejala Kanker yang Sering Diabaikan)

Meskipun belum jelas hubungan antara obesitas dengan berbagai jenis kanker, para peneliti meyakini bahwa keadaan kronis yang terjadi karena kegemukan adalah penyebabnya. Hal tersebut mengganggu prdouksi hormon normal sehingga meningkatkan risiko kanker. 



Namun, sebuah penelitian baru menyebutkan bahwa pola makan tak sehat, meskipun tak obesitas, tetap dapat menyebabkan risiko kanker meningkat. Studi tersebut menggunakan data dari 90 ribu wanita post-menopause dari Women's Health Initiative untuk melihat pola makan dan diagnosa kanker. 

Hasilnya, kenaikan berat badan tidak bertanggung jaab pada peningkatan risiko kanker. Malahan, jenis makanan yang diasup, yang dapat menciptakan masalah berat badan, dapat menyebabkan gangguan pada metabolisme, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kanker.











(TIN)