Depresi, Sebuah Kondisi Kompleks yang Perlu Penanganan Komprehensif

   •    Selasa, 25 Jul 2017 12:40 WIB
psikologi
Depresi, Sebuah Kondisi Kompleks yang Perlu Penanganan Komprehensif
Perilaku bunuh diri merupakan perilaku yang didasari oleh kompleksitas kombinasi antara kondisi fisik, biologis/genetik, psikologis, dan psikososial. (Foto: Ben Whte/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mendengar kata depresi mungkin masih banyak yang membandingkan beratnya dengan penyakit diabetes, kanker, atau tumor. Mungkin juga, masih ada anggapan bahwa rasa tersebut tidak seharusnya diketahui oleh orang lain, atau merasa sebaiknya ditanam jauh di dalam saja.

Dan menurut Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog dalam rilis yang diterima oleh Metrotvnews.com dari Brawijaya Women & Children Hospital mengatakan bahwa sayangnya orang masih malu menceritakan kondisi depresi yang sedang dialaminya atau keinginannya untuk bunuh diri. Hal itu menjadi rahasia yang dipendam dalam diam. 

"Tidak menyalahkan mereka yang bersikap seperti itu, karena kebanyakan orang yang diceritakan tidak menunjukkan respons yang tepat," paparnya lagi dalam rilis.



Kita lebih mampu untuk peduli dan bersimpati kepada penderita diabetes atau kanker dibanding kasus-kasus kesehatan mental. 

Sri Juwita Kusumawardhani menerangkan bahwa depresi dan tendensi bunuh diri dianggap kebanyakan orang sebagai suatu kondisi lemah iman yang perlu diselesaikan dengan ibadah padahal kondisinya lebih kompleks daripada itu. 

(Baca juga: Berikut Ini Tanda-tanda Seseorang Ingin Bunuh Diri)

"Meskipun, cara penanganan spiritual menjadi salah satu pilihan, namun perlu penanganan yang komprehensif untuk dapat meredakan depresi dan keinginan untuk bunuh diri," tekannya.

Ia juga menegaskan bahwa perilaku bunuh diri merupakan perilaku yang didasari oleh kompleksitas kombinasi antara kondisi fisik, biologis/genetik, psikologis, dan psikososial. 

"Kondisi fisik maksudnya sakit yang dirasakan secara fisik memicu keinginan bunuh diri agar sakitnya tidak terasa lagi."

Sedangkan dari biologis yakni faktor genetik adalah ketika keluarga seseorang memiliki riwayat bunuh diri atau gangguan mental menjadi lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri. 



Di sisi psikologis, ada beberapa hal seperti ketidakberdayaan, resiliensi yang rendah, riwayat trauma sejak kecil, riwayat kekerasan baik secara fisik/seksual/psikologis, diabaikan/kehilangan orangtua, riwayat gangguan psikiatrik seperti penggunaan obat terlarang atau gangguan mood terutama depresi. 

Pada aspek psikososial yakni hal-hal yang menjadi sumber stres dalam kehidupan sehari-hari seperti kondisi finansial, kehilangan orang-orang terdekat, atau terjerat masalah hukum. 









(TIN)