Deteksi Prediabetes Cegah Keparahan

Media Indonesia    •    Rabu, 21 Sep 2016 09:19 WIB
kamus kesehatan
Deteksi Prediabetes Cegah Keparahan
(Foto: Vivirmejor)

Metrotvnews.com, Jakarta: Prediabetes merupakan tahapan yang mengarah pada diabetes. Laju perkembangannya bisa dihambat dengan gaya hidup sehat.

Diabetes melitus kerap disebut sebagai ibu dari banyak penyakit. Pasalnya, penyakit tersebut memang memicu beragam komplikasi, termasuk yang berakibat fatal seperti stroke dan serangan jantung.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi diabetes melitus dari 5,7% (pada 2007) menjadi 6,9%. Data Riskesdas 2013 juga menunjukkan bahwa 2 dari 3 orang penyandang diabetes tidak menyadari bahwa diri mereka menderita diabetes.

Umumnya, penderita memeriksakan diri ketika sudah mengalami komplikasi, seperti kerap kesemutan dan kebas, pandangan buram, atau mengalami luka yang tidak kunjung sembuh. Fakta tersebut sangat disayangkan karena sejatinya dengan langkah sederhana, keparahan itu bisa dicegah.

"Ketika seseorang terdiagnosis diabetes, dia sudah terlambat ditangani sejak 10 tahun lalu," ujar dokter dari Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), Sugito Wonodirekso, pada kegiatan edukasi Kalbe Academia.

Ia menjelaskan, sebelum seseorang sampai pada kondisi diabetes, ia akan melewati fase prediabetes. Fase tersebut bisa berlangsung hingga 10 tahun sebelum masuk ke fase diabetes.

"Kalau terdeteksi saat prediabetes, lalu dilakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, kondisinya bisa dicegah tidak sampai ke tahap diabetes atau minimal diperlambat agar tidak berkembang menjadi diabetes dalam waktu cepat," kata Sugito.

Kondisi prediabetes bisa diketahui melalui pemeriksaan kadar gula darah, dalam hal ini pemeriksaan HbA1C. HbA1C yang normal bernilai kurang dari 6. Seseorang digolongkan prediabetes ketika nilai HbA1C-nya 6-6,4. Nilai HbA1C lebih dari 6,4 digolongkan diabetes.

"Pemeriksaan HbA1C lebih akurat daripada pemeriksaan gula darah biasa karena HbA1C menggambarkan kadar gula darah tiga bulan terakhir," imbuh Sugito.

Pemeriksaan itu sangat disarankan bagi mereka yang memiliki faktor-faktor risiko menderita diabetes seperti memiliki orangtua penderita diabetes. "Anak pengidap diabetes berisiko menderita diabetes juga. Karena itu, mulai usia 30-40 tahun sebaiknya cek HbA1C setahun sekali.

"Seseorang yang terdiagnosis prediabetes, lanjut Sugito, perlu menjaga pola hidup. "Lakukan gaya hidup seperti yang harus dilakukan pengidap diabetes, seperti olahraga rutin, mengurangi konsumsi gula, memperbanyak makanan berserat, makan tidak berlebihan, dan tidak merokok. Selain bermanfaat untuk mengerem laju perkembangan prediabetes, hal itu juga membuat diri terbiasa menerapkan gaya hidup sehat. Dengan demikian, kalau memang nantinya sampai ke tahap diabetes sudah tidak 'kaget' lagi," papar Sugito yang juga mantan ketua PDKI itu.

Ia menegaskan, penerapan pola hidup sehat tersebut seharusnya tidak menjadi beban. "Sejak awal harus diingat, gunakan makanan sebagai obatmu, jika tidak nantinya obat akan menjadi makananmu. Intinya, utamakan pencegahan.

"Pada kesempatan sama, Presiden Direktur PT kalbe Farma Tbk Irawati Setiady menjelaskan Kalbe Academia yang mencakup edukasi tentang diabetes terhadap dokter dan masyarakat awam merupakan upaya pihaknya untuk turut serta menanggulangi masalah diabetes di Indonesia.

"Kalbe Academia sudah berlangsung rutin selama lima tahun. Tahun ini mengangkat topik diabetes karena makin lama prevalensinya makin meningkat. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari gerakan Indonesia Lawan Diabetes," ujar Irawaty.

Indonesia Lawan Diabetes merupakan gerakan yang diusung Kalbe bersama Kementerian Kesehatan. Menurut Direktur Kalbe Nutritionals, Ongkie Tedjasurja, kegiatannya mencakup seminar edukasi diabetes kepada masyarakat awam dan tenaga medis.

"Kami juga meluncurkan microsite www.indonesialawandiabetes.com untuk menampung 50.000 aksi #Indonesialawandiabetes yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dengan mem-posting foto aksi cek gula darah, aksi olahraga rutin, atau aksi pola makan 3J (pengaturan jadwal, jumlah, dan jenis makanan)," katanya pada peluncuran program itu bulan lalu.

Seluruh foto yang terkumpul hingga World Diabetes Day November 2016 akan dikonversi menjadi bentuk dukungan berupa penyediaan fasilitas cek darah dan pangan bernutrisi bagi layanan kesehatan di berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki prevalensi diabetes tinggi.

Gaya hidup

Pada peluncuran gerakan itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan peningkatan kasus diabetes berdampak pada besarnya beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung pemerintah.

"Diabetes dan komplikasinya berdampak pada besarnya beban pembayaran klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Biaya penanganan penyakit katastropik (berbiaya tinggi) mencapai 33% dari total pengeluaran BPJS Kesehatan," imbuh dia.

Di Indonesia, lanjutnya, diabetes merupakan penyebab kematian terbesar ketiga dengan persentase 6,7% setelah jantung (12,9%) dan stroke (21,1%). Menurutnya, mayoritas diabetes di Indonesia ialah tipe 2. Diabetes tipe 2 terjadi karena resistensi insulin, tubuh kurang peka terhadap insulin. "Pemicunya adalah gaya hidup tidak sehat.

"Pada kesempatan sama, Direktur Pencegahan dan pengendalian Penyakit tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk meminimalkan risiko komplikasi. "Deteksi dini melalui skrining dan dapat dilakukan di Posbindu Penyakit tidak Menular (PTM). Masyarakat diimbau memeriksakan diri secara berkala setiap 6-12 bulan sekali," ujarnya. (Ind/H-1)


(DEV)