Filter Instagram Bisa Digunakan untuk Deteksi Depresi

Nia Deviyana    •    Kamis, 25 Aug 2016 14:01 WIB
psikologi
Filter Instagram Bisa Digunakan untuk Deteksi Depresi
(Foto: Huffington Post)

Metrotvnews.com, Jakarta: Filter pada media sosial Instagram mampu memberikan kesan tertentu pada sebuah foto yang diposting. Lebih dari itu, filter yang digunakan ternyata mampu mendeteksi kesehatan jiwa seseorang.

Sebuah penelitian menganalisis lebih dari 40 ribu foto milik 166 partisipan. Sebanyak 70 di antaranya dilaporkan mengalami depresi klinis.

Para peneliti membandingkan kualitas yang berbeda-beda pada setiap foto. Mulai dari tingkat kecerahan, saturasi warna, dan kontras. Peneliti juga menghitung berapa banyak jumlah foto wajah, jumlah likes, dan komentar yang diterima.

Semua informasi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sistem alogaritma komputer yang telah didesain untuk menganalisis tingkat depresi lewat sebuah foto.

Hasilnya, mereka yang tertekan cenderung menggunakan filter biru, kelabu, dan membuat foto menjadi lebih gelap.

Sementara, mereka yang depresi lebih sering menggunakan filter inkwell, atau hitam-putih.

Mereka yang bahagia, lebih senang menggunakan filter valencia, filter yang tidak memberi kesan terlalu dramatis.

Analisis terhadap foto dilakukan sebelum partisipan menjalani diagnosa dokter, sehingga peneliti yakin filter Instagram bisa menjadi medium yang tepat untuk menganalisis tingkat depresi seseorang.

"Orang-orang yang memposting dengan efek gelap belum tahu mereka mengalani depresi, kala itu (sebelum penelitian)," ujar penulis studi Christopher Danforth, Ph.D, profesor matematika dan statistik di Univesity of Vermont. Dalam penelitian, Danforth berkolaborasi dengan Andrew Reece, mahasiswa doktor di bidang psikologi dan teknik komputer di Universitas Harvard.

Sistem  komputer juga menganalisis bahwa mereka yang depresi rata-rata memiliki jumlah likes yang sedikit. Mereka juga lebih banyak memposting foto wajah.

Sebaliknya, mereka yang tidak depresi terbilang jarang memposting foto wajah.

Butuh penelitian lebih lanjut untuk menguatkan teori tersebut. Sebelum penelitian dilanjutkan pada skala yang lebih besar, Danforth menekankan untuk tidak terlalu terpengaruh dengan hasil ini.

"Bagaimana pun, diagnosa penyakit mental harus dikombinasikan dengan serangkaian pemeriksaan medis," kata dia seperti dikutip situs Health.



(DEV)