Terlalu Banyak Berharap Cenderung Membuat Seseorang Kecewa

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 16 Sep 2016 13:51 WIB
psikologi
Terlalu Banyak Berharap Cenderung Membuat Seseorang Kecewa
(Foto: Gettyimages) Ubah pola pikir Anda jadi lebih positif agar hidup Anda lebih bahagia.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin mengungkapkan, bahwa perasaan marah karena merasa tidak diperlakukan dengan layak atau diistimewakan, dapat menyebabkan seseorang mengalami kekecewaan kronis pada hidupnya. 

Para penulis dari Case Western Reserve University tersebut menyimpulkan hal tersebut setelah menganalisis lebih dari 170 makalah akademis, dimana orang yang menginginkan hak yang lebih tinggi akan mengalami tiga siklus. 

Siklus Awal
Mereka tidak selalu memiliki segala sesuatu yang mereka pikir mereka pantas dapatkan, sehingga mereka terus-menerus rentan terhadap harapan yang belum terpenuhi. Harapan-harapan yang belum terpenuhi ini yang kemudian dianggap sebagai ketidakadilan, yang mengarah ke emosi yang tidak stabil seperti marah dan sedih.

Akhirnya, untuk membenarkan emosi, mereka menganggap bahwa mereka istimewa untuk sementara waktu, tapi ujungnya membuat mereka kecewa kembali. 

(Baca juga: Psikolog: Kelengahan Keluarga, Ciptakan Kondisi 'Ideal' Anak Alami Kekerasan)

Siklus berikutnya
"Sering kali, kehidupan, kesehatan, masa tua, dan dunia sosial tidak sesuai dengan apa yang diharapkan," tambah Grubbs, yang sekarang menjadi profesor psikologi klinis di Bowling Green State University. "Pada tingkat ekstrim, hak berubah menjadi sifat narsis yang cukup mengganggu, berulang kali sifat ini membuat frustrasi, bahagia, dan kecewa dalam kehidupan," kata Grubbs.

Pandangan ini akan mengintimidasi orang, karena tidak sesuai dengan anggapan bahwa diri mereka superior. "Kekecewaan yang berkelanjutan tersebut akan berdampak pada hubungan dalam diri, seperti konflik interpesonal dan depresi," tambah rekan penulis Julie Exline, PhD. 

Siklus terakhir
Merasa memiliki banyak hak, menimbulkan rasa 'saya lebih baik' atau 'saya perlu dilayani dibandingkan orang lain.' Hal tersebut akan menimbulkan isolasi dalam sebuah lingkungan. "Tidak mudah bagi mereka untuk melihat siapa diri mereka atau mengubah cara pikir tersebut. Penelitian ini belum sampai kepada intervensi hak," kata Exline.

Namun ia percaya, perasaan itu sebenarnya bisa diperintah. Ia menambahkan, kalimat pendukung seperti 'Ya, saya istimewa. Namun orang lain pun demikian" dapat membantu memberi pola pikir bersyukur, bukan menuntut banyak hak. 

Jadi, jika Anda berpikir 'Saya lebih baik dari mereka' atau 'Saya pantas mendapatkan lebih dari ini', Exline memberikan saran untuk merubah pola pikir Anda.








(TIN)