Ikatan Persaudaraan yang Kuat, Kunci Melawan Gangguan Mental

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 23 Jun 2018 20:14 WIB
kesehatan mental
Ikatan Persaudaraan yang Kuat, Kunci Melawan Gangguan Mental
Ikatan Persaudaraan yang Kuat, Kunci Melawan Gangguan Mental (Foto: shutterstock)

Jakarta: Umumnya, anak-anak yang mengalami konflik destruktif berulang dengan orang tua mereka berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Namun, sebuah penelitian baru mengklaim bahwa ikatan saudara kandung yang kuat adalah kunci perjuangan.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa remaja, yang telah menyaksikan tingkat pertengkaran yang tinggi di antara orang tua, memiliki respons yang lebih besar terhadap konflik orang tua setahun kemudian.

Respons tersebut, pada gilirannya, memprediksi masalah kesehatan mental di tahun berikutnya.

Namun, para peneliti menunjukkan bahwa remaja dengan hubungan saudara kandung yang kuat terlindungi dari mengalami jenis kesusahan tersebut.

"Anak-anak mungkin menggunakan saudara mereka sebagai sumber perlindungan dan dukungan emosional, yaitu, sebagai figur keterikatan," kata Patrick Davies, seorang peneliti dari topik ini.

"Jika ini adalah alasan utama untuk efek perlindungan, orang mungkin beranggapan bahwa saudara kandung yang lebih muda akan mendapat manfaat yang jauh lebih besar karena dapat mengakses dukungan dari kakak yang lebih mampu sebagai sumber dukungan. Tapi ini bukan masalahnya."

Selain itu, tambahnya, saudara kandung dapat mengembangkan ikatan pertemanan yang melibatkan kehangatan bersama, pengungkapan tentang kekhawatiran, dan dukungan dan umpan balik korektif sebagai persepsi tentang kehidupan keluarga.

Singkatnya, Davies mengatakan bahwa memiliki hubungan yang baik dengan saudara laki-laki atau perempuan dapat mengurangi kerentanan gangguan mental pada anak yang terkena konflik orang tua.


 


(ELG)