Kenali Sleep Apnea si Gangguan Tidur

Yatin Suleha    •    Selasa, 06 Sep 2016 12:54 WIB
kesehatan
Kenali Sleep Apnea si Gangguan Tidur
(Foto: Huffingtonpost)

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu gangguan tidur yang dialami oleh banyak orang adalah mendengkur atau sering disebut dengan ngorok. Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, yang berpraktik di Klinik Gangguan Tidur dalam Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, mengatakan bahwa kecenderungan orang Indonesia terhadap fenomena gangguan dalam masalah tidur masih belum terlalu tinggi.

“Bagi mayoritas orang, mendengkur dan mengantuk dianggap tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah penyakit lainnya, tentu saja hal tersebut keliru," ujar dr. Andreas. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa mendengkur merupakan gejala utama Obstructive Sleep Apnea (OSA).

OSA adalah penyempitan saluran nafas atas saat tidur. Penyempitan ini menyebabkan getaran pada bagian-bagian lunak saluran nafas sehingga menghasilkan suara ngorok. Dengan semakin melemasnya otot-otot lidah, menyebabkan lidah terjatuh dan menyumbat total saluran nafas sehingga terjadi henti nafas (apnea). Hal tersebut mengakibatkan pertukaran oksigen dan karbondioksida sewaktu tidur jadi tidak efektif.

Namun tidak semua orang yang mendengkur sudah pasti menderita sleep apnea. Untuk mendiagnosanya, dr. Andreas menjelaskan seorang pendengkur harus menjalani overnight sleep study untuk direkam dan diamati semalam penuh selama tidur untuk melihat gelombang otak, tegangan otot, gerakan bola mata, dan lainnya.

Dampak Buruk
Dr. Andreas menerangkan dalam kasus sleep apnea dapat berakibat buruk pada kesehatan tubuh, antara lain:

- Kekurangan oksigen. Kurangnya oksigen mengakibatkan tidur seseorang terbangun-bangun akibat nafas yang tersendat. 

- Meningkatkan aktifitas syaraf simpatis. Tidur yang terpotong ini dapat meningkatkan aktifitas syaraf simpatis (karena ini termasuk stres secara fisik). Sebenarnya aktifitas syaraf simpatis ketika tidur adalah nol, dan baru akan tinggi jika ia sedang stres,  baik secara fisik atau pikiran. 

- Tekanan darah naik. Jika syaraf simpatis aktifitasnya menininggi, akibatnya tubuh juga akan stres dengan indikasi seperti tekanan darah naik.

- Metabolisme terganggu (dikenal secara medis dengan glukose intolerance, insuline resistance) atau yang dikenal secara umum sebagai kondisi pre-diabetes. 

- Sel-sel inflamasi juga naik (yang membuat darah menjadi kental) sehingga risiko untuk koroner atau stroke lebih tinggi. 





(TIN)