Studi: Virus Flu Berpotensi Memicu Serangan Jantung pada Lansia

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 26 Jan 2018 14:41 WIB
studi kesehatan
Studi: Virus Flu Berpotensi Memicu Serangan Jantung pada Lansia
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa penderita influenza berisiko mengalami risiko serangan jantung enam kali lipat lebih besar pada tujuh hari pertama.

Risiko tersebut makin tinggi pada orang lansia, penderita infeksi influenza B, dan mereka yang sudah mengalami serangan jantung satu kali.

"Temuan kami penting karena hubungan antara influenza dan infark miokard akut memperkuat pentingnya vaksinasi," kata penulis utama Jeff Kwong, seorang ilmuwan di Institute for Clinical Evaluative Sciences (ICES), sebuah nirlaba berbasis di Kanada.

Studi yang dikombinasikan dengan bukti sebelumnya tersebut, di mana menunjukkan bahwa vaksinasi mengurangi kejadian kardiovaskular dan kematian, mendukung pedoman internasional yang advokasi untuk imunisasi influenza pada mereka yang berisiko tinggi terkena serangan jantung.

Studi yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine tersebut mengidentifikasi 332 pasien dari tahun 2009 hingga 2014 yang dirawat di rumah sakit karena mengalami serangan jantung saat terdiagnosa influenza dalam setahun.

Mereka melihat adanya hubungan signifikan antara infeksi pernapasan akut, khususnya influenza, dan infark miokard akut.

Namun, risiko tersebut tidak setinggi infeksi dari virus pernapasan lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi wabah influenza musiman menyebabkan tiga hingga lima juta kasus parah dan 300 ribu hingga 500 ribu kematian tiap tahun.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan (CDC), flu musim di tahun 2018 telah aktif dan masih menyebar di Amerika Serikat. Setidaknya 60 ribu sampel terbukti positif terkena influenza sejak virus menyebar pada Oktober tahun lalu dan 30 anak telah meninggal di tahun ini.

"Orang dengan risiko gangguan jantung harus berhati-hati untuk mencegah infeksi saluran pernafasan, dan terutama influenza, melalui tindakan termasuk vaksinasi dan cuci tangan," saran Kwong.




(DEV)