kaleidoskop 2017

Masalah Kesehatan Nasional yang Menghebohkan Sepanjang 2017

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 22 Dec 2017 08:00 WIB
kaleidoskop 2017
Masalah Kesehatan Nasional yang Menghebohkan Sepanjang 2017
Setidaknya sebanyak 11 provinsi yang melaporkan adanya wabah difteri pada kurun waktu Oktober-November 2017. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Salah satu isu kesehatan yang cukup menarik perhatian masyarakat selama 2017 adalah penembahan tiga jenis vaksin dalam imunisasi dasar lengkap, termasuk vaksin MR. Selain itu, ada beberapa kasus lain yang tak kalah menghebohkan Nusantara. 

Mulai dari masalah kesehatan yang ringan hingga masalah kesehatan yang mengkhawatirkan masyarakat juga terjadi di sepanjang tahun ini. Berikut adalah beberapa hal yang terjadi di dunia kesehatan Indonesia selama 2017.

1. Vaksin MR
Di tahun 2017, Kementerian Kesehatan RI akan mengupayakan penambahan tiga jenis kekebalan untuk melengkapi program nasional imunisasi dasar lengkap, yaitu: vaksin Measles Rubella (MR); vaksin Pneumococcus; dan vaksin Human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks.

Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit campak dan rubella.

Pemberian vaksin MR secara nasional di Indonesia tahun ini dilakukan dalam dua fase. Pada Agusus-September 2017 vaksin berlangsung di Pulau Jawa dengan sasaran anak usia sekolah hingga 15 tahun dan pada bayi berusia di bawah lima tahun. Sementara, untuk luar Pulau Jawa pada Agustus-September 2018. Pemberian vaksin anak usia sekolah hingga 15 tahun dilakukan di sekolah, di fasilitas layanan kesehatan.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Subuh menegaskan vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional, termasuk MR, aman diberikan.

Kemenkes terus melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pihak sehingga eliminasi campak dan pengendalian rubella pada 2020 diharapkan terwujud. Total sasaran imuniasi MR kali ini sebanyak 34 juta anak atau 38,5 persen.

Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa terkait dengan pemberian imunisasi pada anak yaitu melalui Fatwa MUI Nomor 4/2016 yang menyebutkan bahwa imunisasi dibolehkan sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya penyakit tertentu.


(Pada Oktober 2017, Kemenkes mengumumkan satu kasus Flu Burung A H5N1 pada manusia pertama yang dilaporkan pada tahun 2017. ?Foto: Pixabay.com)

2. Pil PCC
Sebuah video yang beredar di dunia maya tentang efek pil PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol) pada 13 September 2017, disusul dengan puluhan pelajar yang dirawat di rumah sakit hingga seorang pelajar meninggal di Kendari akibat pil tersebut sempat menggegerkan Tanah Air. 

Pil PCC sendiri digolongkan dalam zat adiktif oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dan memiliki kandungan karisoprodol yang merupakan obat keras yang dapat memberi efek relaksasi otot. 

Obat itu menimbulkan efek samping bersifat sedatif dan euforia. Pada dosis di atas dosis terapi, karisoprodol dapat menyebabkan kejang dan berhalusinasi, serta menimbulkan efek lain yang membahayakan kesehatan hingga kematian.

Izin edar carisoprodol sendiri sudah dicabut sejak 2013. Namun, peredaran pil PCC kembali terungkap setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jawa Tengah menggerebek sejumlah pabrik PCC di Jawa Tengah, Minggu, 3 Desember 2017. Lokasi pabrik berada di Semarang, Solo, dan Sukoharjo.

(Baca juga: Bisakah Difteri Disembuhkan?)

3. Flu Burung 
Pada Oktober 2017, Kemenkes mengumumkan satu kasus Flu Burung A H5N1 pada manusia pertama yang dilaporkan pada tahun 2017. Kasus berinisial IKP (L, 4 tahun) yang berlokasi Kabupaten Klungkung, Bali, ini telah dikonfirmasi oleh dikonfirmasi pula oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

"Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi terpadu, ditemukan adanya faktor risiko berupa banyaknya unggas yang mati mendadak," ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. H.M. Subuh, MPPM, seperti dikutip dalam rilis Kemenkes. 

4. Air purifikasi
Berbagai simpang siur terkait air terpurifikasi, Kemenkes pun mengambil langkah dengan melakukan pemeriksaan produk mesin purifikasi air yang diperdagangkan oleh PT. EI pada 10 November 2017.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Kemenkes menginstruksikan kepada PT. EI untuk melakukan empat hal yaitu: menarik semua brosur terkait informasi yang mengklaim produk mesin kangen water yang telah diakui negara" (Kementerian Kesehatan RI); menarik semua brosur yang terkait informasi yang mengklaim bahwa produk mesin kangen water sebagai "medical device"; tidak boleh mengklaim bahwa produk mesin ionisasi (water electrolysis) sebagai produk yang dapat menyehatkan dan/atau menyembuhkan"; dan Kemenkes juga menghimbau PT. EI agar menindaklanjuti hasil pemeriksaan dalam waktu 7 (tujuh) hari.

Alat purifikasi air produksi PT. EI adalah alat pembersih air. Alat tersebut tidak memerlukan izin sebelum beredar karena bukan merupakan alat kesehatan sehingga boleh beredar bebas. Namun demikian perusahaan tidak boleh mengklaim alat tersebut sebagai produk kesehatan dengan alasan dapat mengobati atau menyembuhkan penyakit.


(Setidaknya sebanyak 11 provinsi yang melaporkan adanya wabah difteri pada kurun waktu Oktober-November 2017. Foto: Ilustrasi. Dok. Antara Foto)

5. Wabah difteri
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Oscar Primadi menyatakan sejumlah provinsi sudah melaporkan kejadian luar biasa (KLB) difteri di kabupaten atau kotanya masing-masing. 

Setidaknya sebanyak 11 provinsi yang melaporkan hal tersebut pada kurun waktu Oktober-November 2017 yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Difteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit itu sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Gejala awal difteri bisa tidak spesifik seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah. Namun, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan "bull neck".

Imunisasi, lanjut Oscar, masih merupakan cara yang ampuh untuk menangani difteri. Maka dari itu, dia berpesan agar masyarakat tidak ragu mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi difteri.









(TIN)