Studi: Bayi Stres Memiliki Perilaku yang Berbeda

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Dec 2017 11:31 WIB
keluargaperkembangan anak
Studi: Bayi Stres Memiliki Perilaku yang Berbeda
Pada bayi baru lahir yang merasa stres, perilaku yang ditampilkan juga tak bisa dijadikan sebagai patokan. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa dokter dan suster yang menangani bayi tak benar-benar mengerti apa yang dirasakan makhluk mungil tersebut.

Pada bayi baru lahir yang merasa stres, perilaku yang ditampilkan juga tak bisa dijadikan sebagai patokan.

Para peneliti dari University College London tersebut menyebutkan bahwa bayi yang dirawat di rumah sakit, yang merasa tertekan dengan lingkungan sekitar, memiliki respons rasa sakit yang lebih besar dalam otak setelah perawatan kulit klinis rutin daripada bayi yang tidak stres.

Hubungan yang tidak terkoneksi antara perilaku bayi baru lahir yang stres dengan aktivitas otak terhadap respons pada sakit belum pernah terbukti dan sebuah penelitian menemukan bahwa menunjukkan bahwa stres merupakan faktor penting dalam memengaruhi bagaimana bayi merasakan dan bereaksi terhadap rasa sakit.

"Kita tahu bahwa pengalaman rasa sakit dan stres berulang pada tahap kehidupan dini dapat memberi dampak buruk pada perkembangan siatem saraf pusat dan hasil penelitian kami menunjukkan bahwa mengontrol tingkat stres dari bayi yang dirawat di rumah sakit tak hanya mengurangi rasa sakit namun berkontribusi pada perkembangan kesehatan mereka," ujar pemimpin studi Dr Laura Jones.


(Pada bayi baru lahir yang merasa stres, perilaku yang ditampilkan juga tak bisa dijadikan sebagai patokan. Foto: Pixabay.com)

Tim tersebut mengukur perilaku dan aktivitas otak dari 56 bayi baru lahir sebelum dan sesudah pemeriksaan klinis di hari pertama lahir dan memonitor tingkat stres mereka.

(Baca juga: 6 Tahap Tumbuh Kembang Anak yang Harus Diketahui Orangtua)

Pada bayi dengan tingkat stres terendah, aktivitas otak dan perilaku saling berhubungan dimana durasi menangis atau meringis lebih lama.

Sementara, pada bayi dengan tingkat stres tertinggi, aktivitas otak yang lebih besar tak cocok dengan perilakunya, tak ada respons berlebih.

"Perilaku seperti menangis atau ekspresi wajah umumnya digunakan sebagai ukuran pengalaman sakit bayi. Nilai kesakitan berdasarkan pada observasi, karena bayi tak bisa berbicara. Meskipun metode ini sangat berguna, kami melihat bahwa hal itu tak cocok pada bayi yang mengalami stres. Kita perlu melakukan cara yang lebih baik untuk memonitor rasa sakit, mengurangi stres, dan melanjutkan intervensi," tambah asisten peneliti Dr Judith Meek dari University College London Hospitals NHS Foundation Trust.

Para peneliti mengukur latar belakang tingkat stres para bayi menggunakan dua pendekatan, variasi detak jantung dan tingkat kortisol dalam air liur.

Setiap bayi memiliki tingkat stres yang berbeda, tergantung populasi dan likungan. Hasilnya menunjukkan bahwa amplitudo rasa sakit menimbulkan gelombang otak lebih besar pada bayi dengan stres tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki tekanan rendah.








(TIN)