Tema Khusus Rona

Temui Lauren Marler, Si Pejuang yang 4 Kali Terkena Kanker yang Berbeda

Dhaifurrakhman Abas    •    Rabu, 07 Nov 2018 13:55 WIB
kisah
Temui Lauren Marler, Si Pejuang yang 4 Kali Terkena Kanker yang Berbeda
Temui Lauren Marler, wanita asal Texas, Amerika Serikat yang sempat mengidap beberapa jenis kanker yang berbeda dan ia masih hidup. (Foto: Courtesy Gini Reed, MD Anderson Cancer Center)

Jakarta: Membaca judulnya saja mungkin Anda sedikit mempertanyakan. Apakah benar ada seseorang yang bisa survive setelah terkena kanker 4 kali? Jawabnya ada. Temui Lauren Marler, wanita asal Texas, Amerika Serikat yang sempat mengidap beberapa jenis kanker yang berbeda dan ia masih hidup.

Diawali saat Marler merasa tubuhnya lemah. Seperti ada sesuatu yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Saat usia 15 tahun, Marler berspekulasi bahwa dirinya terkena kanker.

Angapan itu terbentuk ketika Merler melakukan riset kecil-kecilan yang ia himpun lewat berbagai studi dan informasi. Gejala pada tubuhnya menunjukkan tanda-tanda mengidap kanker.

Tetap saja, Marler memilih untuk diam dalam kecurigaannya itu. Dia menutupnya rapat-rapat, meskipun gejalanya semakin hari semakin memburuk.

Puncaknya saat ia berusia 17 tahun, Marler menyadari fesesnya bercampur dengan darah. Dia panik, namun malu untuk mengadu, lebih-lebih kepada orang tuanya. Untuk menenangkan pikiran, Marler mencoba membohongi dirinya seolah-olah itu tidak pernah terjadi.

“Saya merasa bahwa tubuh saya memiliki semua gejala kanker usus besar. Ini membuat saya gila, tapi tetap saja tak berani jujur pada orang tua,” kata Marler, dikutip Reader’s Digest.

Marler lantas mencoba memberanikan diri. Dia mengungkapkan pada ibunya melalui surat. Tapi sang ibu tak percaya. Malah menganggap Marler hanya bersikap berlebihan. Apalagi awalnya, dokter hanya mendiagnosa Marler mengalami sembelit.

(Baca juga: Gejala Kanker Usus Besar yang Harus Diketahui Wanita)


(Lauren Marler menyadari ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya, yang saat itu usianya masih remaja. Lalu pemeriksaan setelahnya dilakukan. Foto: Ilustrasi. Dok. Hush Naidoo/Unsplash.com)

Kanker usus besar

Namun suatu ketika, dokter yang merawat meminta Marler melakukan terapi diet serat. Selanjutnya, dokter tersebut membius Marler. Ia harus menjalani tes endoscopy dan colonoscopy.

Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Saat itu juga, Merler didiagnosa menderita kanker usus besar.

“Ketika terbangun, saya melihat ibu melihat saya seperti melihat hantu. Dokter yang memeriksa saya juga menangis. Katanya, belum pernah dia menangani kasus seperti penyakit ini,” ujar Marler.

Marler lantas buru-buru dilarikan ke MD Anderson Cancer di University of Texas. Sambil mengingat-ingat kembali momen 13 tahun lalu itu, ia menyebut bahwa di sana dirinya masih terbaring lemas ketika dipertemukan dengan profesor Miguel Rodriguez-Bigas. “Dia (Rodriguez) yang mengurus kanker saya,” ujarnya.

Untuk menyembuhkan kanker, seluruh usus besar Marler “dipindahkan”. Dokter Rodriguez juga mengangkat hampir keseluruhan rektrum yang Marler miliki. Hanya sedikit yang disisakan untuk mempertahankan fungsi pencernaan bekerja normal.

Tak kunjung sembuh

Sembilan bulan berlalu. Yang ditakutkan tak jua minggat dari tubuh. Kanker usus besar masih menggerogoti tubuhnya. “Saat itu yang terpikir hanya.. Oh tuhan, saya ingin hidup seperti orang normal,” ungkapnya.

Tapi Marler tetap berpikir positif dan yakin, masih ada jalan lain untuk sembuh. Setidaknya Marler masih bisa menjalani operasi, kemoterapi dan terapi radiasi.

Dia coba lakukan segalanya agar pertempurannya melawan kanker berakhir. Lima tahun berlalu, kanker usus besar tidak lagi menunjukkan batang hidung.

Tapi Marler masih rutin mengecek kondisi tubuhnya melalui pemindaian rutin untuk memastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Kelainan bawaan

“Kring,” suara telepon berdering. Marler yang tengah bekerja buru-buru mengangkat telepon tersebut. Nama panggilan yang tertera di telepon genggamannya tak asing. Benar saja, yang menelpon pihak medis.

“Saya sedang bekerja dan dokter menelepon untuk memberi tahu, bahwa hasil scan menunjukkan suatu titik di rahim saya. Biopsi polip mengungkapkan itu adalah kanker endometrium, dan yang agresif,” ujar Marler.

Marler langsung tancap gas kembali ke MD Anderson Cancer di University of Texas untuk bertemu dengan Dr Pedro T. Ramirez. Saat itu Dr Ramirez merekomendasikan histerektomi penuh.  

Hal itu berdasarkan hasi kajian sejarah medik yang sebelumnya dilalui bersama Dr Rodriguez. Marler juga direkomendasikan untuk menjalani serangkaian tes genetik.

“Untungnya, waktu itu, kanker itu terkandung di polip. Jadi saya tidak perlu kemoterapi,” dia menjelaskan.

Tapi, hasil tes genetik mengungkapkan berita buruk. Marler memiliki gangguan bawaan yang sangat langka disebut CMMRD (Constitutional Mismatch Repair Deficiency).

Tim medis menjelaskan bahwa kelainan bawaan tersebut memengaruhi seseorang memproduksi kanker yang berbeda.

Sederhananya, CMMRD membuat tubuh penderita gagal memperbaiki sel-sel dalam tubuh yang rusak.

Malah sel tersebut bermutasi menyebabkan sel kanker. Ia diduga mewarisi kelainan bawaan dari kedua orang tuanya yang memiliki sindrom Lynch.

Melansir National Center for Biotechnology Information (NCBI) sindrom Lynch terjadi karena mutasi pada gen yang disebut PMS2. Para penderita sindrom Lync sangat rentan terhadap kanker usus besar dan endometrium.

Namun ketika Marler mewarisi dua salinan gen dari kedua orang tuanya, itu berarti bahwa dia sangat rentan terhadap hampir seluruh jenis kanker. Tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan kelainan bawaan CMMRD.

Adapun pengobatan dan terapi medik hanya untuk mencegah kanker yang berkembang, bukan menghilangkan CMMRD.

Tak bisa disembuhkan

Buktinya, tiga tahun kemudian, Marler juga terdiagnosa menderita kanker limfoma. Salah satu yang paling sulit disembuhkan. Kanker ganas ini menyerang sistem limfatik yang menghubungkan kelenjar limfe atau kelenjar getah bening di seluruh tubuh.

“Saya terus batuk-batuk, merasa tidak enak badan, mual dan demam tinggi,” ungkapnya.
Para dokter lantas memberi tahu bahwa Marler musti mendapatkan perawatan. Cukup lama sampai bisa sangat melelahkan.

Ya, Marler mengalami enam jenis kemoterapi yang berbeda secara bersamaan, salah satunya diberikan melalui sumsum tulang belakangnya. Dia juga harus dirawat di rumah sakit setiap minggu selama enam hari.

“Saya sangat lemah sehingga saya tidak bisa turun dari sofa. Saya kehilangan semua rambut saya, dan saya menderita sakit badan yang parah,” kenangnya.


(Hasil tes genetik mengungkapkan berita buruk. Marler memiliki gangguan bawaan yang sangat langka disebut CMMRD (Constitutional Mismatch Repair Deficiency). Tim medis menjelaskan bahwa kelainan bawaan tersebut memengaruhi seseorang memproduksi kanker yang berbeda. Foto: Ilustrasi. Dok. Luis Melendez/Unsplash.com)

Kondisi Marler saat ini

Kini genap sudah 10 tahun lalu Marler menjalani semua itu. Marler kini berusia 28 tahun, sedang dalam kondisi kesehatan prima. Tapi dia menyadari betul sesuatu mungkin bakal kembali mengintainya.

Namun di balik semua itu, ia meminta kita untuk selalu tersenyum dan menghargai keluarga. Dia mengaku kemampuan untuk bisa bertahan dari pertempuran melawan kanker adalah lewat senyuman.

“Saya banyak tertawa. Itulah satu hal yang keluarga lakukan untuk saya. Kami dapat menemukan humor dalam situasi apa pun, menemukan cara untuk tertawa. Saya khawatir tentang apa yang terjadi selanjutnya. Tetapi saya telah belajar untuk hidup dengannya (kanker)," tutur Marler.

Lebih lanjut, Marler memiliki beberapa saran untuk orang lain yang ada di luar sana, yang barangkali sedang membaca cerita ini.

Terlepas dari masalah apapun yang sedang dihadapi, jangan pernah malu untuk membagikan keresahan yang Anda rasakan pada orang lain. Khususnya jika Anda mengalami keresahan yang sama seperti yang Marler rasakan.

“Temukan cara untuk mendapatkan bantuan yang Anda butuhkan. Anda harus memberi tahu seseorang. Bahkan jika itu menulis surat seperti yang saya lakukan. Temukan seseorang yang nyaman dengan Anda yang dapat Anda ceritakan. Jika saja waktu itu menunggu lebih lama, saya (mungkin) akan mati di usia 20-an,” tutup Marler.




(TIN)