Kurva Pertumbuhan WHO Tidak Sesuai untuk Indonesia

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 27 Jul 2018 09:00 WIB
kesehatanperkembangan anak
Kurva Pertumbuhan WHO Tidak Sesuai untuk Indonesia
DR. Dr. Aman B Pukungan SpA (K) mengatakan bahwa pentingnya membuat kurva preferensi objektif nasional yang sesuai dengan keadaan Indonesia. (Foto: Tbel Abuseridze/Unsplash.com)

Jakarta: Ahli endokrinologi anak DR. Dr. Aman B Pukungan SpA (K) mengungkapkan bahwa kurva pertumbuhan yang menjadi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak tepat untuk diterapkan di Indonesia.

Ia memberikan contoh tentang kurva pertumbuhan WHO tahun 2006 dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 di mana dalam pertumbuhan remaja laki-laki, semua provinsi di Indonesia selalu berada di bawah angka rekomendasi WHO.

Kemungkinan, perbedaan tersebut yang membuat angka stunting cukup besar, yaitu 30-39 persen pada Riskesdas 2013.

Hal ini, menurutnya, dikarenakan data WHO tidak memasukkan Indonesia sebagai sampel, atau daerah dengan tipikal penduduk seperti Indonesia.


(Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk membuat kurva preferensi objektif nasional yang sesuai dengan keadaan Indonesia, meski di satu sisi, tiap provinsi sulit untuk disamaratakan karena keberagaman gen. Foto: Abigail Keenan/Unsplash.com)

(Baca juga: Efek Domino dari Stunting)

"Angka stunting dari data 2007, 2010, hingga 2013 tidak menunjukkan perbedaan, padahal ada perbaikan," pungkasnya yang menganggap bahwa telah terjadi gagal fokus dalam definisi anak sehat.

Menurutnya tak hanya survei saja, tetapi juga perlu dilakukan interpretasi seperti dokter lokal yang bertugas.

"Setop menggunakan kurva WHO, saya sudah keliling ke banyak daerah dan anak-anak sehat," ungkapnya tegas dalam temu media, Kamis 26 Juli 2018.

Lalu, bagaiman solusi yang tepat untuk mengetahui apakah anak sudah tergolong normal dalam tumbuh kembang?

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut menyarankan untuk membuat kurva preferensi objektif nasional yang sesuai dengan keadaan Indonesia, meski di satu sisi, tiap provinsi sulit untuk disamaratakan karena keberagaman gen. 




(TIN)