Berbagai Upaya Kurangi Sampah Plastik

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Jun 2018 11:54 WIB
lingkungan hidup
Berbagai Upaya Kurangi Sampah Plastik
Terdapat dua aturan yang sedang disusun terkait pengurangan dan penanganan sampah plastik di Indonesia yang menyasar masyarakat dan produsen. (Foto: Sander Wehkamp/Unsplash.com)

Jakarta: Sampah plastik kini menjadi momok di semua negara, termasuk Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa Indonesia masuk dalam lima negara Asia penyumbang plastik sampah terbanyak. 

Padahal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan Indonesia Bersih, yaitu 100 persen sampah dikelola dengan baik pada tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, apa yang perlu dilakukan pemerintah dan masyarakat?

Nani Hendarti selaku Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim Kementerian Koordinator Maritim RI berpendapat bahwa pendidikan sejak dini adalah salah satu solusi.

"Kesadaran yang rendah ini dikarenakan kurang peduli memberikan ajaran pada generasi muda terkait pengelolaan sampah. Padahal, ini penting karena bisa menjadi awal dari perubahan perilaku masyarakat," terangnya dalam peluncuran gerakan Danone-AQUA #BijakBerplastik, Selasa 5 Juni 2018 lalu.


(Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan Indonesia Bersih, yaitu 100 persen sampah dikelola dengan baik pada tahun 2025. Foto: Hermes Rivera/Unsplash.com)

Salah satu program yang dicanangkan adalah Adiwiyata, yang tercetus sejak 1975. Program yang tujukan pada siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut bertujuan untuk membuat generasi muda lebih peduli lingkungan. 

Namun, terlepas dari keberhasilan program tersebut, Staf Ahli Pengelolaan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri merasa pendidikan sejak dini belum terlalu efektif. 

"Persiapan soal edukasi sejak dini sudah lama, tapi belum banyak perubahan. Hal ini karena masyarakat Indonesia ndableg (keras kepala)," pungkasnya pada kesempatan yang sama. 

(Baca juga: Inovasi Tas dari Sampah Botol Plastik)

Ia melanjutkan, untuk bisa menyukseskan Indonesia Bersih, masyarakat perlu dipaksa dalam berperilaku peduli sampah. 

Selain dari segi pendidikan, Nani juga menjelaskan bahwa pemerintah sudah melakukan kerja sama lintas kementerian dan lembaga untuk menyusun rencana aksi pengelolaan sampah, terutama sampah plastik di laut. 

Terdapat empat program strategis dengan total 58 kegiatan yang dijalankan. Keempat program tersebut diantaranya adalah perubahan perilaku masyarakat, mengurangi kebocoran dari aktivitas di daratan, dan mengurangi kebocoran aktivitas laut. 

"Mengubah perilaku masyarakat adalah PR paling besar. Sementara aktivitas laut memang perlu diperhatikan karena pariwisata laut dan perikanan sedang didorong," tambahnya. 

Terkait perubahan perilaku masyarakat, salah satu upaya yang sempat diterapkan adalah uji coba plastik berbayar yang diklaim dapat mengurangi penggunaan plastik cukup signifikan. 


(Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa Indonesia masuk dalam lima negara Asia penyumbang plastik sampah terbanyak. Foto: Dustan Woodhouse/Unsplash.com)

"Hasilnya luar biasa, turun sampai 55 persen," tukas Ujang Solihin Sidik selaku Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI, yang membahas lebih lanjut terkait hal ini. 

Pada kesempatan tersebut, Ujang juga mengungkapkan bahwa terdapat dua aturan yang sedang disusun terkait pengurangan dan penanganan sampah plastik di Indonesia yang menyasar masyarakat dan produsen.

Pertama, cara untuk memengaruhi publik untuk membatasi penggunaan kantong plastik. Kedua, membuat road map para pengusaha penghasil kemasan platik untuk ikut mengurangi sampah plastik. 

Selain program Adiwiyata, Ujang mengatakan bahwa kebijakan pemerintah kedepannya juga harus berubah. "Salah satunya mendesain ulang kemasan untuk tidak sekali pakai, ini dari sisi produksi."

Sementara, untuk publik, kesadaran untuk membawa kantong belanja sendiri dan tidak menggunakan sedotan plastik adalah cara yang efektif, di mana sebagian masyarakat sudah melakukannya dalam keseharian. 





(TIN)