Manfaat Pos Gizi untuk Menurunkan Angka Stunting

Raka Lestari    •    Rabu, 18 Jul 2018 07:38 WIB
menkesstunting
Manfaat Pos Gizi untuk Menurunkan Angka Stunting
Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek saat mengunjungi desa Haya-Haya, Gorontalo. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

Jakarta: Pos Gizi merupakan pelayanan yang dilakukan di Posyandu dengan melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan balita yang kemudian diidentifikasi apakah seseorang balita tersebut masuk ke dalam kategori gizi buruk atau tidak.

Hal ini dilakukan agar angka stunting pada anak-anak di Indonesia terutama di daerah-daerah bisa semakin menurun. 

"Stunting kan kekurangan gizi kronis ya, masa untuk memperbaiki ada sebaiknya pada usia kurang dari 2 tahun. Sebenarnya masih bisa sampai 5 tahun tapi sulit, hanya sedikit atau hanya sekitar 15 persen. Jadi, jangan menunggu anak telanjur stunting. Terlambat itu," ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek saat mengunjungi salah satu desa bernama Haya-Haya yang terletak di Kecamatan Limboto Barat, untuk meninjau Pos Gizi sebagai upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Gorontalo, Selasa 17 Juli 2018. 

Kegiatan pos Gizi Desa Haya-haya dibentuk sejak tahun 2013 secara swadaya memanfaatkan partisipasi masyarakat dibantu tim penggerak gizi dan bidan desa, serta dibina Puskesmas Kecamatan setempat. Namun pada tahun 2017 kegiatan pos gizi desa telah diintegrasikan dengan dana desa. 


(Pemberdayaan bahan pangan lokal di jadi salah satu kegiatan Pos Gizi di Desa Haya-haya saat kunjungan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

(Baca juga: Penyakit Stunting Disebabkan Gizi yang Tak Seimbang)

"Perlu kami sampaikan bahwa pos gizi ini sudah dilakukan sejak akhir tahun 2013. Kami melihat kegiatan ini baik untuk dilakukan masyarakat," ujar Kepala Desa (Ayahanda) Haya-haya Kec Limboto Barat, Yasin Ingo. 

"Di dalam partisipasi masyarakat itu semua makanan lokal kami berdayakan. Bahwa tidak semua gizi itu berasal dari makanan yang mahal karena tujuan kami melakukan hal ini untuk mengubah mindset dari masyarakat. Untuk itu kegiatan ini kami lanjutkan terus," kata Yasin Ingo. 

Kegiatan pertama yang dilakukan dalam Pos Gizi adalah dengan melakukan pendataan sasaran melalui pengukuran di Posyandu yang dilakukan oleh kader dan divalidasi oleh petugas kesehatan, terutama data antropometri dan status gizi. 

Kemudian hasil pendataan, disampaikan pada musyawarah masyarakat desa yang dipimpin oleh kepala desa (Ayahanda Desa) untuk menentukan tempat dan waktu pelaksanaan pos gizi. 

Lalu selama 12 hari berturut-turut, peserta pos gizi bayi (6-11 bulan) dan balita (12-59 bulan) beserta ibunya, akan dikumpulkan di Pos Gizi untuk dipantau penambahan berat badannya, mengajarkan personal hygiene, melakukan permainan, dan orang tua akan didampingi kader untuk diajarkan memasak makanan berat menggunakan bahan pangan lokal. 





(TIN)