Hanya 20 Persen Sampah Plastik Daur Ulang yang Laku Terjual

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Jun 2018 07:00 WIB
lingkungan hidup
Hanya 20 Persen Sampah Plastik Daur Ulang yang Laku Terjual
Menurut Staf Ahli Pengelolaan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri, terdapat tiga jalan dalam mengelola jenis sampah. (Foto: Jon Tyson/Unsplash.com)

Jakarta: Sampah plastik adalah salah atau masalah lingkungan yang sedang menjadi perhatian besar. Berbagai usaha dilakukan oleh pihak pemerintah maupun swasta untuk mengurangi limbah tersebut. 

Menurut Staf Ahli Pengelolaan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri, terdapat tiga jalan dalam mengelola jenis sampah tersebut yaitu melalui Tempat Pembuangan Akhir (TPA), daur ulang, dan terakhir di lingkungan tanpa terkontrol. 

Berbicara tentang daur ulang, Enri mengkritisi bagaimana proses tersebut tidak sepenuhnya dapat mengurangi sampah plastik. 

"Banyak yang bilang, daur ulang dapat membantu kurangi plastik, tapi tidak. Sebagian plastik tersebut dibuang karena tak laku. Jadi hanya 20 persen pemulung yang mau ambil," terangnya dalam peluncuran gerakan Danone-AQUA #BijakBerplastik, Selasa 5 Juni 2018.

"Kita berpikir daur ulang aman. Tapi di sini mekanisme pasar bermain, istilahnya 'kalau berharap, saya ambil'. Seperti itu."

(Baca juga: Sekda DKI Berencana Buat Pengolahan Sampah Termal)


(Menurut Staf Ahli Pengelolaan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri, terdapat tiga jalan dalam mengelola jenis sampah tersebut yaitu melalui Tempat Pembuangan Akhir (TPA), daur ulang, dan terakhir di lingkungan tanpa terkontrol. Foto: Jorge Zapata/Unsplash.com)

Di sini, dinas kebersihan daerah setidaknya harus mau mendatangi perumahan yang memiliki sampah tak bernilai bagi pemulung atau 'jemput bola'. 

"Pemulung tidak mau mengantarkan sampah plastik yang tak bisa dijual ke TPA. Jadi kalau tak mau dibuang ke lingkungan, maka dinas kebersihan bergerak," ia menyarankan.

Di satu sisi, Nani Hendarti selaku Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim Kementerian Koordinator Maritim RI mengungkapkan bahwa pemerintah sudah berupaya mendorong pemanfaatan sampah plastik, terutama sampah rumah tangga. 

Ia memberi contoh plastik kresek yang digunakan sebagai campuran aspal jalan. Dibutuhkan sekitar tiga sampai 3,5 ton plastik kresek untuk membuat campuran aspal sejauh satu kilometer. 

"Program ini sudah dijalankan dan target sedang dinaikkan, salah satunya di daerah Labuhan Bajo. sayangnya pemulung belum tahu kalau ini bernilai," pungkasnya pada kesempatan yang sama. 





(TIN)