tema khusus rona

Love Scammer, Menabur Cinta Palsu untuk Memanfaatkan Korban

Yatin Suleha    •    Senin, 11 Jun 2018 11:53 WIB
romansa psikologilove scammer
Love Scammer, Menabur Cinta Palsu untuk Memanfaatkan Korban
Menurut psikolog Efnie, bahwa pada umumnya love scammer adalah kriminal yang memanfaatkan sasaran yang mudah mereka perdaya. (Foto: Shamim Nakhai/Unsplash.com)

Jakarta: Fenomena love scammer memang beragam di dunia maya. Bahkan ada yang terkena bualannya walau tanpa pernah bertemu muka sama sekali.

Sebuat saja Mawar, yang sempat pernah membelikan jam tangan mewah dengan harga fantastis sebagai hadiah bagi seseorang yang ternyata hanya seorang love scammer.

"Saya enggak menyangka kalau dia seorang love scammer, karena kita sempat pernah ketemu di Estonia. Kita berbicara sampai tiga jam dan saat itu saya yakin kalau orang ini orang yang baik, cerdas, sekaligus sangat tampan. Saya pikir saya beruntung banget ketemu dengan orang kaya gitu," kenang Mawar yang saat itu sedang ke luar negeri untuk menjalankan tugas dari kantornya.


(Fenomena love scammer memang beragam di dunia maya. Bahkan ada yang terkena bualannya walau tanpa pernah bertemu muka sama sekali. Foto: Neonbrand/Unsplash.com)

Mawar juga menerangkan bahwa setiap hari ia selalu diberikan pesan manis melalui Whatsapp. "Bisa sampai lebih dari 100 kali dalam satu hari. Dari selamat pagi, sampai selamat malam dan selamat tidur. Sepanjang hari saya seperti dihujani kata-kata manis yang sangat menyenangkan dan menghanyutkan. Entah itu puisi, entah itu foto dan caption manis darinya, entah itu video romantis," ucap Mawar.

(Baca juga: Ciri-ciri Si Kriminal Cinta di Dunia Maya)

"Namun, setelah kenal lebih dekat melalui Whatsapp selama beberapa bulan dan kebetulan dia bilang jam tangan kesayangannya hilang, dan dia bilang dia sedang butuh sekali jam kemudian dengan mudahnya saya memberikannya dan mengirimkannya ke negaranya. Tanpa mikir panjang. Dan setelah itu dia menghilang. Hanya ada satu kata terakhir dari dia yaitu 'saya simpan jam ini, dan goodbye.' Rasanya saya seperti tersambar petir, bahkan tidak ada kata terima kasih dari dia," kenang Mawar.

Jika dilihat dari sisi psikologi, psikolog Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung ini menjelaskan bahwa pada umumnya memang mereka kriminal yang memanfaatkan sasaran yang mudah mereka perdaya. "Mereka yang melakukan ini karena adanya gangguan jiwa jumlahnya terbatas," ucap Efnie.


(Lalu bagaimana memulihkan jiwa dan psikologi sehabis terkena love scammer ini? "Idealnya terapi dilakukan oleh ahli untuk melakukan re-setting pikiran dan mental kembali," ujar psikolog Efnie Indrianie M.Psi. Foto: Albert Dera/Unsplash.com)

Menurut Efnie mereka melakukan itu sebagai mata pencaharian. "Dengan menariknya pribadi mereka dalam berkomunikasi maka para korban mereka sudah tersugesti dengan apa yang mereka katakan."

"Jika sudah tersugesti, maka otak akan berada pada kondisi seperti terhipnotis, dan secara otomatis kita mudah mengikuti apa yang mereka minta. Biasanya saat ini otak depan hampir tidak berperan, tapi yang berperan adalah sistem limbik di otak," papar psikolog yang ramah ini.

Lalu bagaimana memulihkan jiwa dan psikologi sehabis terkena love scammer ini? "Idealnya terapi dilakukan oleh ahli untuk melakukan re-setting pikiran dan mental dengan terapi yang tepat, karena hanya dengan konsultasi biasa hampir kurang efektif untuk membantu," ucap Efnie.




(TIN)