Studi: Memiliki Tujuan Hidup Tingkatkan Kualitas Tidur

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 11 Jul 2017 12:21 WIB
studi kesehatan
Studi: Memiliki Tujuan Hidup Tingkatkan Kualitas Tidur
Memupuk sebuah tujuan hidup dapat menjadi strategi bebas obat untuk meningkatkan kualitas tidur. (Foto: Huffington Post)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi yang melibatkan lanjut usia (lansia) menunjukkan bahwa memiliki tujuan hidup dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas tidur.

Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa memiliki tujuan dalam hidup dapat mengurangi gangguan tidur dan meningkatkan kualitas dan durasi tidur.

Meskipun diujicoba pada lansia, para peneliti menyebutkan bahwa hal tersebut bisa diaplikasikan pada publik secara keseluruhan.

"Membantu memupuk sebuah tujuan hidup dapat menjadi strategi bebas obat untuk meningkatkan kualitas tidur, terutama pada populasi yang mengalami insomnia," ujar peneliti senior Jason Ong selaku asisten profesor bidang neurologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine.



(Baca juga: Ketahui Hal Ini jika Anak Bercita-cita Menjadi Pilot)

Menurutnya, tujuan hidup adalah sesuatu yang bisa dipupuk dan ditingkatkan melalui terapi kesadaran.

Umumnya, orang akan mengalami gangguan tidur dan insomnia seiring dengan pertambahan usia. Para ahli medis menyarankan intervensi tanpa obat untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan percobaan tersebut.

Penelitian tersebut melibatkan 823 lansia berusia 60-100 tahun dengan rata-rata usia 79 tahun dari dua kelompok di Rush University Medical Center. Lebih dari setengah partisipan adalah Amerika-Afrika dan 77 persen adalah wanita.

Partisipan yang merasa hidup mereka bermakna 63 persen lebih jarang mengalami sleep anea, dan 52 persen lebih kecil dalam hal sindrom kaki yang gelisah (restless leg syndrome).

Sleep apnea adalah gangguan tidur dimana seseorang bernapas pendek dan berhenti bernapas beberapa saat tidur lebih dari sekali. Hal tersebut menyebabkan penderita tidak segar saat terbangun dan sering mengantuk di siang hari.

Sementara, sindrom kaki gelisah menyebabkan sensasi tidak nyaman di kaki dan dorongan yang tak tertahankan untuk menggerakkan kaki. 

Gejala gangguan tersebut biasanya terjadi pada sore hari atau sore hari dan seringkali paling parah pada malam hari saat seseorang sedang beristirahat, seperti duduk atau berbaring di tempat tidur.



Studi tersebut juga meminta partisipan menjawab 10 pertanyaan terkait tujuan hidup dan 32 pertanyaan seputar tidur untuk melihat kualitas tidur mereka.

Untuk survei pertama, mereka diminta memberi nilai pada beberapa pernyataan seperti 'Saya merasa baik saat memikirkan apa yang telah saya lakukan di masa lalu dan apa yang akan saya lakukan di masa depan'.

Langkah selanjutnya dalam penelitian tersebut adalah mempelajari penggunaan terapi berbasis perhatian terhadap tujuan hidup dan menghasilkan kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk ini terkait dengan kesulitan tidur dan merasa mengantuk di siang hari.
 








(TIN)