Penderita Penyakit Tidak Menular Meningkat pada Usia Produktif

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 26 Sep 2017 15:05 WIB
kesehatan
Penderita Penyakit Tidak Menular Meningkat pada Usia Produktif
(Foto: Goredforwomen)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementrian Kesehatan menyoroti meningkatnya angka penyakit tidak menular (PTM) pada usia produktif saat ini. Hal itu ditegaskan dr Lily Sulistyowati, MM selaku Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dalam peluncuran program Healthy Lung, Selasa (26/9/2017).

"Masalah penyakit menular belum selesai, tetapi PTM juga meningkat secara signifikan dan menyerang usia produktif dan lansia," ungkap dr Lily.

Ia memaparkan, dua masalah kesehatan utama saat ini adalah kurang gizi dan obesitas, dua hal yang bertolak belakang. Kedua hal tersebut tergolong gaya hidup tak seimbang pemicu timbulnya PTM.

"Gaya hidup adalah salah satu penyebabnya, nyaman dilakukan tapi tak sehat bagi tubuh," tambah Lily.

Naiknya presentase jumlah penderita PTM terlihat jelas dari defisit dana BPJS Kesehatan sebesar Rp 9 Triliun dimana 70 persen dari dana tersebut digunakan untuk pengobatan PTM. Oleh karena itu, Lily menekankan untuk melakukan tindakan pencegahan yang dimulai dari hulu, misalnya gaya hidup dalam keluarga.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, tiga PTM tertinggi Indonesia adalah stroke (21,1 persen), penyakit jantung (12,9 persen), dan diabetes (6,7 persen).

Ia memberi perhatian khusus pada data terkait faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia. Pertama, 4,8 persen warga Indonesia mengalami kelebihan konsumsi gula dengan presentase tertinggi DI Yogyakarta (16,9 persen). Artinya, 5 dari 100 orang di Indonesia mengonsumsi gula lebuh dari 50 gram per hari. Padahal, disarankan tak mengkonsumsi gula lebih dari empat sendok makan.

Kemudian, faktor risiko lain yang tak tinggi adalah konsumsi garam sebesar 52,7 persen dimana 53 dari 100 orang Indonesia memgkonsumsi lebih dari 2.000 gram per hari dan DKI Jakarta menduduki peringkat pertama dalam hal ini (65,4 persen).

Selain itu, sebanyak 26,5 persen juga mengalami kelebihan konsumsi lemak sebesar 67 gram perhari. Gaya hidup lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah kurangnya asupan sayur dan buah dimana 93,5 persen warga Indonesia tidak mengkonsumsi buah dan sayur secara teratur dimana Kalimantan Selatan menduduki peringkat tertinggi yaitu 98 persen.




(DEV)