Adu Nyali di Via Ferrata Tebing Gunung Parang

Prihadi    •    Kamis, 29 Sep 2016 13:24 WIB
kesehatan
Adu Nyali di Via Ferrata Tebing Gunung Parang
(Foto: Dokumentasi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Panjat tebing tidak melulu dilakukan oleh seorang atlet panjat tebing atau penggemar olahraga ekstrem. Di panjat tebing Via Ferrata, memungkinkan siapa pun untuk melakukannya. Bahkan, bagi pemula sekalipun. Syaratnya cuma satu, tidak takut pada ketinggian.

Via Ferrata merupakan tangga besi yang berada di tebing, dan ditanam dengan jarak yang sama satu dengan lainnya di sepanjang jalur lintasan. Terdapat kawat baja yang membentang di sepanjang jalur pendakian sehingga aman dilakukan untuk pemula. 

Via Ferrata dalam Bahasa Italia berarti 'Jalan Besi.' Jalan ini digunakan pertama kali oleh biarawan Italia untuk menuju kastil yang berada di atas bukit, yang kemudian digunakan juga pada masa Perang Dunia I. Selanjutnya diadaptasi penggunaannya di Gunung Kinabalu, Malaysia, dan kini dapat dijumpai di Badega Gunung Parang, Desa Cirangkong, Purwakarta, Jawa Barat.

Untuk melakukan pendakian, pengunjung diminta mengisi formulir yang berisi tingkat ketinggian yang diinginkan, yang tersedia mulai 100 hingga 900 meter.

Selama pendakian, pengunjung akan dipandu dan dibekali perlengkapan dasar, seperti helm, body harness, dan carabiner.

Sebelum melakukan pendakian pun, pengunjung akan mendapatkan pembekalan dari pemandu, berupa pengenalan dasar alat dan cara pendakian.

Karena medan pendakian merupakan tempat terbuka, maka sebaiknya pendakian dilakukan sepagi mungkin untuk menghindari teriknya matahari pada siang hari. Jangan lupa siapkan air minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi.



Tantangan pendakian dimulai dari titik nol meter. Dari titik ini pengunjung harus fokus dengan tiap pijakan yang terletak pada tangga besi. Pengunjung juga harus mengatur ritme, kapan mengganti pijakan satu ke pijakan selanjutnya, serta kapan waktu yang tepat melepas carabiner satu persatu secara bergantian pada kawat baja, untuk kemudian dipasang kembali.

Hal ini terus dilakukan pada dinding tebing yang memiliki kemiringan 90 derajat.

Tantangan belum usai karena jalur pendakian tidak selalu lurus ke atas. Sesekali, ada lintasan yang mengharuskan pengunjung untuk berjalan ke samping.


Kalau sudah merasa lelah, maka sebaiknya istirahat sambil menikmati pemandangan Waduk Jatiluhur dari kejauhan.

Pos pertama untuk istirahat ada pada titik ketinggian 100 meter. Tempat istirahat juga tersedia tiap seratus meter berikutnya.

Lelah saat pendakian sudah pasti dirasakan. Namun, lelah seolah terbayar saat Anda berhasil menaklukkan ketinggian, dan melihat pemandangan yang begitu Indah saat melakukan pendakian.


(DEV)