Alzheimer Bisa Dideteksi dari Sensitivitas Indra Penciuman

Nia Deviyana    •    Rabu, 16 Nov 2016 15:33 WIB
alzheimer
Alzheimer Bisa Dideteksi dari Sensitivitas Indra Penciuman
(Foto: Medicalnewstoday)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penelitian baru yang dipublikasikan dalam Jurnal Annals of Neurology menunjukkan, sensitivitas penciuman seseorang bisa dijadikan indikator untuk mendeteksi potensi alzheimer.

Dr Mark Albers dari Departemen Neurologi Rumah Sakit Umum Massachusetts memaparkan, bukan hanya kemampuan mengingat dan mengenali yang bisa digunakan sebagai tes alzheimer, tetapi juga kemampuan membedakan bau.

Albers menjelaskan, alzheimer merusak sirkuit otak yang mengontrol bau atau penciuman.

Dr Albers dan timnya menganalisis 183 orang dewasa dalam studinya yang merupakan bagian dari Massachusetts Alzheimer's Disease Research Center.

Para peserta itu 70 orang di antaranya memiliki fungsi kognitif normal, 74 orang mengalami kerusakan kognitif, 29 orang lainnya mengalami gangguan kognitif ringan, dan 10 sisanya terdeteksi mengidap alzheimer.

Setiap subjek menjalani empat tes terpisah untuk menilai ketajaman indra penciuman, yakni OPID-10, OAS, OPID-20, dan (OD).

OPID10 mengharuskan para peserta mencium 10 bau berbeda, termasuk mentol, cengkeh, stroberi, asap, dan lemon selama 2 detik. Kemudian, melaporkan apakah mereka mengenali setiap bau tersebut.

Dalam OPID 20, peserta kembali diminta mencium 10 bau lainnya yang meliputi pisang, bawang putih, ceri, peach, dan cokelat. Peserta ditanya apakah mereka juga mencium bau yang sama pada tes pertama.

Berikutnya pada tes ketiga, peserta ditanya apakah mereka peka terhadap bau di lingkungan, dan bagaimana aroma tersebut memengaruhi emosi. Pada tes terakhir, kemampuan peserta diuji secara keseluruhan.

Dari hasil analisis, peserta yang menunjukkan skor buruk pada tes kedua kemungkinan mengalami penipisan di dua bagian otak, yakni hipocampus dan korteks entorhinal. Inilah indikasi adanya alzheimer.

Alzheimer merupakan bentuk paling umum dari demensia. Sebanyak 5, 4 juta orang di Amerika mengidap penyakit ini. Jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 13,8 juta jiwa pada 2050 jika tidak segera dilakukan strategi untuk pencegahan.


(DEV)