Efek Domino dari Stunting

   •    Rabu, 23 Aug 2017 16:05 WIB
tumbuh kembang bayitumbuh kembang anak
Efek Domino dari Stunting
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menyebut tiga dari 10 balita di Indonesia mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya.

Tak hanya bertubuh pendek, efek domino pada balita yang mengalami stunting lebih kompleks. Selain persoalan fisik dan perkembangan kognitif, balita stunting juga berpotensi menghadapi persoalan lain di luar itu.

"Persoalan sosial dan daya saing ke depan, atau persoalan perlakuan. Karena mereka ini kan mungkin sisi kognitifnya kurang sehingga ketika sekolah tentu gurunya harus lebih sabar dan perlu penanganan yang lebih intensif," ungkap Anung, dalam Metro Plus, Rabu 23 Agustus 2017.

Menurut Anung, stunting bukan berarti gizi buruk yang ditandai dengan kondisi tubuh anak yang begitu kurus. Sering kali anak yang mengalami stunting tidak terlalu kentara secara fisik.

Anak atau balita stunting umumnya terlihat normal dan sehat seperti pada umumnya. Namun jika ditelisik lebih jauh ada aspek-aspek lain yang justru jadi persoalan. Tidak hanya kognitif atau fisik, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal. 

"Anak yang mengalami stunting metabolisme tubuhnya tidak optimal sehingga kalau dia makan, orang lain bisa tumbuh, dia justru tumbuh ke samping. Ini kemudian yang berisiko terhadap penyakit tidak menular di Indonesia seperti diabetes atau obesitas," kata Anung.

Tak hanya itu, Anung mengatakan suatu saat, balita yang mengalami stunting akan tumbuh menjadi manusia dewasa dan bekerja. Sayangnya, faktor stunting yang dialami sejak kecil sering kali menyulitkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

Bicara soal upaya penanggulangan, Anung mengatakan ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai upaya untuk mengintervensi potensi terjadinya stunting. Orang tua masih memiliki waktu dua tahun di periode pertama anak usai dilahirkan untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya.

Selama dua tahun inilah orang tua juga bisa mengejar kebutuhan gizi yang mungkin sempat tertinggal selama kehamilan. Memberikan suplemen mungkin diperlukan, namun orang tua juga harus memastikan bahwa tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

Yang paling penting lagi, kata Anung, adalah soal pencegahan. Pencegahan tentu bisa dilakukan dengan konseling sebelum melangsungkan pernikahan serta memperhatikan gaya hidup sebelum memutuskan untuk menikah dan memiliki anak.

"Jadikan anak ini investasi ke depan. Menikah dan hamil yang perlu betul-betul direncanakan agar paham. Termasuk pemeriksaan calon ibu sebelum hamil, paling tidak kita punya persiapan untuk mendapatkan kesempatan memiliki anak yang benar-benar sehat," katanya.




(MEL)