Posisi Seks Menentukan Jenis Kelamin Bayi?

Yatin Suleha    •    Senin, 10 Oct 2016 12:44 WIB
kesehatan dan produktivitas
Posisi Seks Menentukan Jenis Kelamin Bayi?
Tidak ada bukti ilmiah tentang posisi seks untuk menghasilkan jenis kelamin bayi tertentu. (Foto: Womenshealthmag)

Metrotvnews.com, Jakarta: Anda sudah mencoba beberapa posisi seks untuk mendapatkan jenis kelamin bayi yang berbeda? Sepertinya ini hanya sebuah mitos saja.

Jeffrey Steinberg, MD, direktur dari Gender Selection Program di Fertility Institutes, Los Angeles menyebutkan bahwa hal tersebut sudah dipikirkan oleh banyak orang selama berabad-abad. "Sayangnya, kita masih bergantung pada kehendak alam ketika berbicara tentang jenis kelamin bayi kita. Disamping banyak cerita juga yang mengatakan bahwa makan daging supaya anaknya laki-laki, atau sayuran untuk dapat anak perempuan." 

(Baca juga: Studi: Sunat Tidak Pengaruhi Sensitivitas Organ Intim Pria)

Tapi tidak ada bukti ilmiah tentang hal tersebut, termasuk mengikuti tabel konsepsi China yang sudah berumur 700-an tahun. Tidak ada dari semua itu yang mendapatkan persetujuan dari ilmu pengetahuan.

Sebuah studi dari New England Journal of Medicine juga menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara waktu berhubungan intim dengan jenis kelamin bayi.

Buku terbaik yang cukup terkenal adalah karya Dr. Landrum Shettles, MD, yang diterbitkan tahun 1960-an, yang merupakan pionir bayi tabung. Di dalam buku tersebut Dr. Landrum menyarankan, "Berhubungan intim mendekati masa ovulasi sebisa mungkin untuk mendapatkan anak laki-laki, hal ini karena ketika itu vagina dan cairan serviks cenderung paling basa, kondisi yang sangat menguntungkan untuk sperma Y."

Namun Dr. Steinberg meyimpulkan bahwa tidak terlalu banyak yang bisa dilakukan terkait posisi seks dengan jenis kelamin bayi yang dihasilkan. Jika Anda tetap kukuh menginginkan anak laki-laki di luar tempat tidur Anda, di sana ada 2 prosedur medis. "Ada 2 prosedur medis dengan teknologi tinggi yang melibatkan pemisahan sperma dan embrio yang bisa lebih menjanjikan. Namun, etikanya masih diperdebatkan," ujar Dr. Steinberg.







(TIN)