Anak Kereta Suka Bedesak-desakan, Berbahayakah?

Yatin Suleha    •    Selasa, 13 Feb 2018 07:00 WIB
kesehatan
Anak Kereta Suka Bedesak-desakan, Berbahayakah?
Anak kereta atau yang suka disebut dengan Anker sering mengalami fenomena saling berdesakan di dalam Commuterline Jabodetabek. (Foto: Stephy Miehle/Unsplash.com)

Jakarta: Anak kereta atau yang suka disebut dengan Anker sering mengalami fenomena saling berdesakan di dalam Commuterline Jabodetabek. Ketika di jam sibuk berangkat atau pulang kantor, isi kereta api Jabodetabek penuh sesak. Tak dipungkiri, fenomena ini hampir setiap hari terjadi baik pagi maupun sore, terutama di jam sibuk berangkat dan pulang kerja.

Permasalahan bertambah ketika tas yang tak jarang bentuknya besar, mungkin juga terdapat laptop (yang menambah besar serta berat) bawaan ikut menambah himpitan ke tubuh selama kurang lebih puluhan menit. Himpitan tubuh dan tas terasa sampai menekan organ dalam tubuh. 

Jelas saja banyak juga yang tak bisa berpegangan karena posisi berada di tengah-tengah. Sehingga semua orang yang tak berpegangan akan mengikuti arus jalannya kereta api. Beberapa organ tubuh yang terasa tertekan dan terhimpit antara lain perut, rahim, dada, jantung, dan punggung.

Lalu apakah ini berbahaya? Medcom.id menanyakan pada dr. Gia Pratama yang namanya sempat melambung di dunia media sosial karena membantu persalinan tetangganya secara darurat ini menjawab untuk Anda.


(Anak kereta atau yang suka disebut dengan Anker sering mengalami fenomena saling berdesakan di dalam Commuterline Jabodetabek. Foto: Ilustrasi. Dok. Ghost Presenter/Unsplash.com)

(Baca juga: Pengakuan dr Gia Setelah Bantu Persalinan Darurat Tetangganya di Dapur)

1. Apakah ini tidak berdampak pada kesehatan organ dalam (seperti perut, rahim, dada, jantung, dan punggung)? 
Ini berdampak pada kesehatan secara umum, tapi tidak spesifik terhadap salah satu organ tubuh. Badan yang terhimpit cukup lama akan membuat kapasitas volume oksigen dalam tubuh menjadi jauh berkurang karna ketidak mampuan paru-paru mengembang maksimal untuk bernafas. 

Jantung akan memompa lebih cepat untuk mengompensasi keadaan tersebut. Lambung akan memiliki kecenderungan memproduksi gas dan asam lebih banyak dalam kondisi tersebut. Kesemua hal ini akan membuat Hormon Stres (Cortisol) meningkat.

Hormon ini sering membuat sedikit pengecilan diameter pembuluh darah, sehingga aliran darah ke otak tidak sebagus semestinya, begitu pula aliran darah ke seluruh otot tubuh. Orang tersebut akan merasa tidak fresh, pegal-pegal, dan cepat Lelah.

2. Berbahaya ataukah tidak?
Memang tidak mengancam nyawa secara langsung tapi untuk jangka panjang puluhan tahun, tentu kondisi ini akan berdampak terhadap tubuh. Resiko penyakit degeneratif meningkat. Seperti penyakit jantung koroner, hipertensi,  radang tulang, dan sendi.

3. Lalu apa yang bisa dilakukan setelah keluar dari kereta api?
Baiknya setelah berhimpitan sekian jam, setelah keluar tidak langsung berlari, tapi berdiri diam dulu beberapa menit, untuk menarik nafas panjang, melakukan sedikit peregangan-peregangan otot, dan minum air putih. Ini akan sedikit membalikan keadaan tadi.















Konsultan: dr. Gia Pratama
                  RS Prikasih, Jakarta








(TIN)