Tingkat Kematian akibat Masalah Jalan Napas Paling Tinggi

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 26 Jun 2018 18:00 WIB
kesehatan
Tingkat Kematian akibat Masalah Jalan Napas Paling Tinggi
Evaluasi yang dilakukan dikenal dengan evaluasi ABCDE di UGD. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

Jakarta: Dalam Unit Gawat Darurat (UGD), tindakan pertama yang perlu dilakukan medis terhadap pasien yang datang adalah mengindetifikasi dengan cepat untuk melihat tipe perawatan seperti apa yang akan diberikan.

Head of Emergency Department Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, SpEM mengungkapkan bahwa perlu dilakukan evaluasi ulang untuk mastikan perawatan lanjut pada pasien.

Evaluasi yang dilakukan dikenal dengan evaluasi ABCDE. A untuk napas jalan (airway/ di mana media memeriksa apakah jalan napas pasien masih normal atau tidak. Kemudian B untuk bernapas (breathing) dimana tipe napas diperiksa. Kemudian sirkulasi (circulation) juga dilihat, seperti denyut nadi dan tekanan darah. 


(Dalam Unit Gawat Darurat (UGD), tindakan pertama yang perlu dilakukan medis terhadap pasien yang datang adalah mengindetifikasi dengan cepat untuk melihat tipe perawatan seperti apa yang akan diberikan. Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

(Baca juga: Tipikal Pasien Seperti Apakah yang Dinomorsatukan UGD?)

Selanjutnya disability diperhatikan, yaitu kesadaran akan respons seperti apakah menyadari adanya nyeri atau suara yang dirasakan. Terakhir, paparan (exposure) pada tubuh seperti pendarahan juga menjadi perhatian medis dalam mengevaluasi kondisi pasien. 

Mengapa jalan pernapasan menjadi fokus pertama dalam menangani pasien UGD?

"Karena banyak penelitian menemukan bahwa kematian akibat jalan napas tersumbat paling sering terjadi," jawab dr. Wahyuni dalam temu media, Selasa 26 Juni 2018. 

Tapi, saat ini pemeriksaan cenderung dilakukan secara simultan, di mana beberapa organ tubuh bisa diperiksa sekaligus karena jam terbang para medis yang sudah tinggi. 




(TIN)