Jangan Panik jika Hasil Pap Smear Anda Abnormal

Anindya Legia Putri    •    Kamis, 28 Dec 2017 12:41 WIB
kesehatan
Jangan Panik jika Hasil Pap Smear Anda Abnormal
Pap smear adalah tes yang dimaksudkan untuk menyaring kanker serviks, namun hasil abnormal tidak otomatis berarti hidup Anda dalam bahaya. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Pemeriksaan pap smear kerap kali menyebabkan kegelisahan bagi para wanita. Terlebih jika hasilnya menunjukkan abnormal. Pikiran Anda mungkin segera mulai berkeliaran menuju skenario terburuk dalam hidup, namun profesional medis memperingatkan agar tidak gampang menarik kesimpulan.

Pap smear adalah tes yang dimaksudkan untuk menyaring kanker serviks, namun hasil abnormal tidak otomatis berarti hidup Anda dalam bahaya. Faktanya, para ahli mengatakan sangat umum bagi wanita untuk memiliki setidaknya satu hasil pap smear yang tidak normal dalam hidup mereka.

Hasil abnormal berarti terdapat perubahan pada sel serviks (leher rahim). Kira-kira 1 dari 10 hasil tes pap smear menunjukkan gambaran abnormal, dan hanya 3 dari 10.000 wanita menunjukkan adanya perubahan ke arah kanker. Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan untuk mendeteksi dini kanker serviks

Saat ini disarankan agar wanita pertama kali memeriksakan pap smear mereka pada usia 21, menurut American Cancer Society.

(Baca juga: Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Sederhana)


(Pap smear adalah tes yang dimaksudkan untuk menyaring kanker serviks, namun hasil abnormal tidak otomatis berarti hidup Anda dalam bahaya. Foto: Pixabay.com)

Apa penyebab hasil abnormal?

Penyebab paling umum dari sel serviks yang menunjukkan kelainan adalah Human Papilloma Virus (HPV). “Hampir semua dari kita akan terkena HPV pada suatu saat, kata Denise Rubinfeld, seorang bidan perawat bersertifikat yang bekerja di Spesialis Kesehatan Wanita Nevada.

Dilansir dari Huffingtonpost.com, sebagian besar penularan HPV terjadi akibat adanya sentuhan langsung kulit ke kulit dengan pengidap. Demikian pula dengan benda yang terkontaminasi virus HPV.

Hubungan seksual juga termasuk salah satu sarana penularan virus ini pada kelamin. Misalnya melalui kontak langsung dengan kulit kelamin, membran mukosa, pertukaran cairan tubuh, serta seks oral atau anal.

Rubinfeld mengatakan bahwa sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya membersihkan virus dalam satu atau dua tahun, sehingga kebanyakan wanita yang menerima pap smear abnormal pertama mereka pada usia dua puluhan tidak perlu khawatir. Sebenarnya, ada kemungkinan mereka akan mendapatkan hasil yang normal pada tahun depan.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membawa hasil pap smear kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan agar dapat dilakukan serangkaian pemeriksaan lebih lanjut, sehingga hasilnya dapat diketahui lebih jelas.











(TIN)