Hindari Kata Ini Saat Bertengkar dengan Pasangan

Torie Natalova    •    Senin, 26 Mar 2018 08:00 WIB
romansapsikologi
Hindari Kata Ini Saat Bertengkar dengan Pasangan
Jika Anda ingin menciptakan kedekatan, keintiman, dan pemahaman lebih dalam, gunakan kata "dan" seperti "dan aku ingin" atau "dan aku tidak ingin". (Foto: Pablo Heimplatz/Unsplash.com)

Jakarta: Dalam sebuah hubungan adu argumen dengan pasangan adalah hal yang terelakkan. Ketika dua sifat dan kebiasaan manusia bersatu, pastinya akan ada waktu untuk saling memahami ketidakcocokan masing-masing. 

Itulah mengapa tidak ada hubungan yang sempurna tanpa adu argumen atau pertengkaran satu sama lain. Namun, hanya karena Anda dan pasangan terlibat perselisihan, tidak berarti hal-hal sepele ditingkatkan menjadi hal yang serius.

Lalu, apa kunci berdebat yang baik untuk menyelesaikan masalah dengan baik pula? Rupanya semua tergantung pada bahasa yang digunakan. 

Ternyata ada satu kata yang mungkin sangat umum dan harus Anda coba hindari jika ingin berdebat secara efektif dengan pasangan yakni kata penggunaan kata "tetapi".

Menurut psikoterapis Katherine Schafler, kata tetapi bisa menjadi masalah besar dalam perdebatan dengan orang yang Anda cintai.

(Baca juga: Bila Bertengkar dengan Pasangan, Ingatlah 7 Hal Ini)


(Jika Anda ingin menciptakan kedekatan, keintiman, dan pemahaman lebih dalam, gunakan kata "dan" seperti "dan aku ingin" atau "dan aku tidak ingin". Foto: Colin Maynard/Unsplash.com)

"Kata ini, terutama ketika digunakan selama perdebatan atau percakapan penting dengan pasangan, ternyata menjadi kata yang sangat kuat. Ini seperti jarum kecil yang bisa meletuskan balon semua hal baik, cinta, dan hal positif yang baru saja Anda sampaikan," ujarnya.

Kata tetapi atau tapi dapat dengan mudah menempatkan orang pada posisi defensif. Menggunakan tetapi dalam kalimat umumnya berfungsi untuk meniadakan atau menyaring semua pernyataan positif yang Anda buat sebelumnya. 

Ketika mendengar kata tetapi, terkadang otak akan menerjemahkannya menjadi "inilah pengertiannya atau kesimpulannya". Ini membuat kita menjadi defensif atau bertahan. Kita menjadi lebih emosi, menutup diri, menantang kebenaran dari semua pernyataan yang positif.

Bagaimana cara menghindari kata tetapi? Menurut Katherine, kuncinya adalah menukarnya dengan kata lain seperti "dan". Jika Anda ingin menciptakan kedekatan, keintiman, dan pemahaman lebih dalam, gunakan kata "dan" seperti "dan aku ingin" atau "dan aku tidak ingin". Bahasa itu kuat, dan gunakan kekuatannya untuk kebaikan.








(TIN)