Belum Hamil, Apakah Gejala Anovulasi?

Yatin Suleha    •    Jumat, 14 Oct 2016 08:00 WIB
kehamilan
Belum Hamil, Apakah Gejala Anovulasi?
"Jika perempuan memiliki ovulasi yang irreguler, maka peluangnya untuk hamil akan menurun," dr. Dwirani Amelia, SpOG.

Metrotvnews.com, Jakarta: Anovulasi adalah kondisi dimana tidak terdapatnya ovulasi, yaitu pelepasan sel telur dari ovarium (indung telur). Pelepasan telur ini merupakan proses yang sangat penting jika seseorang menginginkan kehamilan.


Menurut dr. Dwirani Amelia, SpOG, dari RSIA Budi Kemuliaan, Jakarta mengatakan jika ovulasi terjadi tidak teratur, tetapi bukan sama sekali tidak terjadi, disebut sebagai oligo-ovulasi. Keduanya (anovulasi dan oligo-ovulasi) termasuk dalam kelompok disfungsi ovulasi. Dan kondisi ini menyebabkan infertilitas pada hingga 40 persen perempuan infertil. 

PCOS (atau Sindroma Ovarium Polikistik adalah sekumpulan gejala yang disebabkan oleh gangguan kesimbangan hormonal yang cukup sering dijumpai pada perempuan di usia reproduktif), juga termasuk penyebab dari kondisi disfungsi (gangguan) ovulasi.

(Baca juga: Pentingnya USG Sebelum Usia Kehamilan 13 Minggu)

Disebutkan juga bahwa kondisi anovulasi ini ditemukan sekitar 18 persen pada perempuan normal.

Apakah gejala dan tanda anovulasi?
Dr. Dwirani menerangkan bahwa kebanyakan perempuan dengan gangguan ovulasi akan menunjukkan siklus haid yang irreguler (tidak teratur). "Atau, pada keadaan parah, sama sekali tidak terdapat siklus haid," tambah dr. Dwirani.

"Jika siklus Anda kurang dari 21 hari, atau lebih lama dari 36 hari, sangat mungkin Anda mengalami gangguan ovulasi. Demikian pula jika siklus Anda ada dalam batas normal, 21-36 hari tetapi panjang siklus tersebut berubah-ubah dari bulan ke bulan, ini juga mungkin merupakan tanda gangguan ovulasi," ujar dr. Dwirani.

"Meskipun demikian dapat terjadi bahwa siklus Anda dalam batas normal dan tidak terdapat ovulasi, meskipun ini jarang terjadi," tambah dr. Dwirani.

Anovulasi dan Infertilitas
Dr. Dwirani menjelaskan untuk setiap pasangan tanpa infertilitas, peluang untuk terjadi kehamilan di setiap bulannya adalah 25 persen. Maka, meskipun terjadi ovulasi, pasutri tidak dijamin selalu akan terjadi kehamilan.
Akan tetapi ketika seorang perempuan tidak mengalami ovulasi, maka tidak mungkin terjadi kehamilan pada saat itu karena tidak ada telur yang akan dibuahi. 

"Jika perempuan memiliki ovulasi yang irreguler, maka peluangnya untuk hamil akan menurun. Hal ini disebabkan bukan hanya karena dia akan mengeluarkan telur lebih jarang, tetapi pola ovulasi yang memanjang juga cenderung menghasilkan telur yang tidak sehat," papar dr. Dwirani.








(TIN)