Penyebab Keseimbangan pH di Organ Genital Tak Stabil

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 06 Oct 2016 16:30 WIB
kesehatan
Penyebab Keseimbangan pH di Organ Genital Tak Stabil
(Foto: madeeveryda)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kesehatan organ genital perempuan dipengaruhi tingkat keasaman (pH).
Normalnya, kadar pH yang perlu dipertahankan adalah 3,8 sampai 4,5 agar tidak terlalu asam atau basa.

Bila pH terlalu asam atau rendah, maka bakteri baik seperti laktobasillus dan zat penekan pertumbuhan mikroorganisme patologis seperti asam laktat, hydrogen peroksida, dan bakteriosins akan mati sehingga daerah intim tersebut akan didominasi oleh bakteri jahat.
Sementara, bila kadar pH terlalu tinggi, maka bateri jahat akan berkembang biak karena mereka tinggal pada suhu yang tinggi. Dengan demikian, risiko untuk terkena infeksi pun makin besar.

(Baca: Penelitian: Mual dan Muntah pada Awal Kehamilan Pertanda Baik)
 

"Salah satu faktor utama terjadinya perubahan keseimbangan pH adalah kurangnya menjaga kebersihan, seperti jarang mandi sehingga daerah intim pun jarang dibersihkan," kata dr. Liva Wijaya, SpOG, spesialis kedokteran obstetric dan ginekologi dalam acara media workshop It's Better To Be Protected In Your Red Days, di Jakarta, Kamis (6/10/2016).

Ia juga menambahkan, frekuensi hubungan seksual yang terlalu sering juga salah satu faktor penyebab higienitas organ intim tak terjaga dengan baik. Oleh karena itu, setelah berhubungan seksual sebaiknya jangan lupa membersihkan organ intim dengan cara membasuhnya hingga bersih.

Penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat dan tidak menyerap keringat juga menjadi faktor yang meningkatkan kelembaban pada organ tersebut. Bahan yang aman untuk digunakan menurut dr. Liva adalah katun, karena sifatnya lembut di kulit dan menyerap keringat.

Selain itu, pemakaian cairan antiseptik khusus, pembalut, atau panty liner yang tidak cocok dengan kulit sensitif juga dapat memicu terjadinya iritasi atau alergi pada vagina sehingga pH menjadi tak seimbang. Pasalnya, dalam benda-benda tersebut biasanya terkandung pewangi atau pemutih, yang membuat vagina menjadi terlalu lembab.

Terakhir, siklus haid juga dapat memengaruhi ketidakseimbangan pH, dimana terjadi peningkatan keasaman pada saat darah haid keluar. Hal tersebut dapat memicu terjadinya kontaminasi bakteri yang berujung pada infeksi dengan gejala awal keputihan, rasa gatal, dan bau tak sedap.




Lihat Video: Jangan Langsung Beri Antibiotik Jika Anak Sakit!




(DEV)