Mengapa Kesehatan Mental Remaja Harus Menjadi Fokus Orang Tua?

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 02 Oct 2018 12:49 WIB
kesehatan mental
Mengapa Kesehatan Mental Remaja Harus Menjadi Fokus Orang Tua?
(Foto: Everuday Health)

Jakarta: Masa remaja merupakan masa mencari jati diri, yang mana merupakan masa yang kompleks. Pada fase ini, ada perubahan secara fisiologis dan psikologis yang berdampak pada kesejahteraan remaja secara keseluruhan.

Hal inilah yang menjadi fokus Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober.

"Usia remaja (16 sampai 19 tahun), menjadi perhatian dunia karena 16 persen global burden of diseases dan kecelakaan terjadi pada usia 10-19 tahun," ujar dr Eka Viora, SpKJ selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta dalam temu media, Selasa 2 Oktober 2018. 

Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan jiwa mulai mengalami kompleksitas pada usia 14 tahun tetapi kebanyakan tak terdeteksi dan tak mendapat pengobatan. 

Sementara itu, secara global, gangguan yang paling umum pada remaja adalah depresi. Bunuh diri menduduki peringkat ketiga terbesar yang mengakibatkan kematian pada remaja. 

Depresi pada remaja berkaitan dengan tingkat rasa percaya diri yang rendah, serta terjerumus pergaulan yang salah. Eka menjelaskan, penting untuk memotivasi remaja untuk memiliki kehidupan yang lebih produktif agar sehat secara fisik dan mental.

Hingga saat ini, rasa rendah diri menjadi masalah utama pemicu gangguan mental pada remaja. Akibatnya, banyak remaja memiliki gangguan emosional seperti depresi atau menarik diri, gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, hingga keinginan bunuh diri apabila tidak mendapatkan penanganan maksimal.

Lihat video:

 




(DEV)