Bakteri Baik Bisa Resisten Antibiotik

Dhaifurrakhman Abas    •    Selasa, 20 Nov 2018 11:02 WIB
antibiotik
Bakteri Baik Bisa Resisten Antibiotik
Belakangan beredar produk kemasan yang mengandung lactobacillus di dalamnya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Rawpixel/Unsplash.com)

Jakarta: Belakangan beredar produk kemasan yang mengandung lactobacillus di dalamnya. Lactobacillus adalah genus bakteri gram-positif. 

Genus bakteri ini membentuk sebagian besar dari kelompok gula dan laktosa menjadi asam laktat. Hal ini berdampak baik karena produksi asam laktat berfungsi mengganggu pertumbuhan beberapa bakteri merugikan pada tubuh manusia.

Namun demikian, beberapa penelitian menemukan ada perkembangan bakteri Lactobacillus yang resisten terhadap antibiotik. Menurut Ahli Gizi, Gabriela Sugianto, hal ini bisa berbahaya buat tubuh. 

"Memang ada concern bahwa dengan adanya versi lactobacillus yang resisten terhadap antibiotik, gene tersebut bisa ditransfer ke bakteri lain yang pathogen dan menjadi resisten terhadap antibiotik," kata Gabriela, ketika berbincang dengan Medcom.id, Senin 19 November 2018. 

Meskipun bersifat baik, bakteri tersebut bisa menyalurkan (transfer) resistensi kepada bakteri yang bersifat panthogen (parasit). Bakteri tersebut bisa menyebabkan diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits

"Contohnya kalo terkait dengan makanan adalah Staphylococcus," ujarnya.

(Baca juga: Masyarakat Mesti Paham Bahaya Resistensi Antibiotik)


(Beberapa penelitian menemukan ada perkembangan bakteri Lactobacillus yang resisten terhadap antibiotik. Menurut Ahli Gizi, Gabriela Sugianto, hal ini bisa berbahaya buat tubuh. 
Foto: Ilustrasi. Dok. Rawpixel/Unsplash.com)


Meski begitu, nutrisionis dari Indonesia International Institute for Life Sciences ini tetap menyarankan untuk mengonsumsi minuman dengan prebiotik. Sebab hal itu berdampak baik pada tubuh.

"Untuk sekarang, kita harus liat pro and cons untuk minuman probiotics. Pronya adalah sangat menbantu untuk pencernaan, mikroflora di usus dan juga immunitas tubuh. Dan ini menurut saya sangat penting," imbuhnya.

Gabriela yakin masalah transfer antibiotik resisten tidak bakal terjadi pada minuman prebiotik yang diproduksi massal. Sebab minuman tersebut sudah melawati serangkaian uji klinis yang baik.

"Untuk masalah transfer of antibiotic resistance gene, bakteri-bakteri yang dipakai di dalam minuman probiotik sudah dites dan dipastikan bahwa mereka bukan strain atau tipe bakteri yang mempunyai gene tersebut," ungkapnya.

Gabriela juga menyarankan agar masyarakat tidak serampangan mengonsumsi antibiotik untuk menghindari bakteri menjadi kebal terhadap obat tersebut. Sebab World Health Organization (WHO) memprediksi ada 10 juta kematian akibat resistensi antibiotik pada 2050.

"Solusinya untuk antibiotic resistance adalah, orang-orang pakai antibiotik secukupnya (saja). kalau enggak perlu, jangan minum antibiotik," pungkasnya.




(TIN)