Mengenal Bell's Palsy, Penyakit yang Melumpuhkan Wajah

Torie Natalova    •    Selasa, 05 Feb 2019 18:09 WIB
kesehatan
Mengenal Bells Palsy, Penyakit yang Melumpuhkan Wajah
Penyakit ini membuat reaksi sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan saraf wajah membengkak. (Foto Ilustrasi: Sydney Sims/Unsplash.com)

Jakarta: Pedangdut Nita Thalia baru saja sembuh dari penyakit Bell's Palsy meski bagian wajahnya lumpuh. Sebelumnya, Rano Karno juga pernah mengalami penyakit serupa. Apa sebenarnya Bell's Palsy dan siapa saja yang bisa terkena penyakit ini?

Bell's Palsy adalah kelumpuhan sementara otot-otot di salah satu sisi wajah yang dikendalikan oleh saraf wajah. Penyakit ini membuat reaksi sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan saraf wajah membengkak. Saraf yang bengkak akan terjepit di mana ia melewati tabung tulang yang sempit di dasar tengkorak.

Ketika saraf terjepit dan bengkak, pesan-pesan dari otak tidak terkirim dengan benar sehingga inilah yang sebabkan kelemahan di satu sisi wajah penderita Bell's palsy. wajah akan kembali normal ketika pembengkakan hilang.

Penyebab Bell's Palsy

Bell's palsy dapat terjadi ketika seseorang memiliki infeksi virus seperti herpes, Epstein-Barr atau flu. Beberapa pendapat juga mengatakan penggunaan AC yang terlalu dingin dapat meningkatkan risiko Bell's Palsy.

Fisioterapis Maria Kristina dari Canadian Specialist Hospital mengatakan Bell's palsy dapat terjadi dari transisi suhu AC dingin ke suhu panas di luar ruangan. Banyak orang yang mengalami penyakit ini setelah mereka keluar dari tempat yang panas ke tempat yang sangat dingin. Perubahan suhu yang tiba-tiba ini dapat menyebabkan aktivasi virus laten pada seseorang menyebabkan masalah.

Bell's palsy umumnya menyerang orang dewasa, tetapi terkadang bisa terjadi pada anak-anak atau remaja. Wanita hamil dan penderita diabetes cenderung lebih berisiko mengembangkan Bell's palsy.

Tanda-tanda Bell's Palsy

Bell's palsy biasanya muncul sekitar 1-2 minggu setelah terinfeksi virus. Beberapa jam atau hari sebelum Bell's palsy menyerang, beberapa orang mengaku mengalami sakit kepala atau sakit di belakang atau depan telinga.

Tanda lainnya seperti kesulitan menutup satu mata, kekeringan di salah satu mata, kesulitan mencicipi rasa di bagian depan lidah, perubahan jumlah air liur, atau mendengar suara lebih keras di salah satu telinga.

Anda dapat menghindari penyakit ini dengan mengonsumsi makanan penuh nutrisi, tidur yang cukup, menghindari tidur di suhu kamar yang terlalu dingin, jangan tidur dalam keadaan rambut basah di kamar yang terlalu dingin, dan hindari perubahan ekstrem suhu luar dan di dalam ruangan.


(FIR)